Matarakyat24.com — Guru Besar Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Prof. Dr. Phil. Aditya Perdana, S.I.P., M.Si., menegaskan bahwa Pancasila harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan tidak berhenti sebagai hafalan lima sila semata.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila yang digelar pada Rabu (29/7/2026) melalui materi bertajuk “Pancasila sebagai Kompas Tindakan”.
Aditya mengajak peserta merefleksikan berbagai persoalan yang sering dihadapi generasi muda, mulai dari perundungan di media sosial, candaan bernuansa suku dan agama, ketidakadilan di lingkungan sekolah, hingga penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Menurutnya, Pancasila menjadi pedoman etika publik yang mampu menghubungkan nilai-nilai kebangsaan dengan tindakan konkret dalam kehidupan sehari-hari. Kebebasan harus disertai tanggung jawab, perbedaan harus dibangun di atas sikap saling menghormati, dan setiap kebijakan harus berorientasi pada keadilan.
Ia memperkenalkan tiga tahapan sederhana dalam mengambil keputusan berdasarkan nilai Pancasila, yakni memahami persoalan, menimbang dampaknya bagi semua pihak, kemudian mengambil keputusan yang paling adil dan bertanggung jawab.
Dalam sesi mengenai dunia digital, Aditya mengingatkan peserta agar selalu memverifikasi sumber informasi, memahami konteks secara utuh, menghormati privasi orang lain, mempertimbangkan dampak penyebaran informasi, serta memastikan setiap konten yang dibagikan benar-benar memberikan manfaat.
Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun toleransi melalui sikap saling menghormati, memberi ruang bagi perbedaan, serta bekerja sama tanpa diskriminasi. Menurutnya, keadilan bukan berarti memperlakukan semua orang secara sama, tetapi memberikan kesempatan sesuai kebutuhan masing-masing.
Mengakhiri pemaparannya, Aditya mengajak peserta membiasakan tindakan sederhana sebagai implementasi nilai Pancasila, seperti menghentikan candaan yang merendahkan, memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, mendengarkan mereka yang jarang didengar, menyampaikan kritik yang disertai bukti dan solusi, serta memastikan setiap orang memperoleh kesempatan yang setara.
Ia menegaskan bahwa Pancasila baru benar-benar hidup ketika dijadikan dasar dalam mengambil keputusan dan diwujudkan dalam tindakan nyata di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun ruang digital.***












