Guru Besar Universitas Bina Darma Bongkar Jebakan Algoritma Judi Online

Matarakyat24.com — Judi online bukan sekadar permainan keberuntungan. Di balik tampilan yang menarik, terdapat algoritma dan strategi psikologis yang dirancang untuk membuat pengguna terus bermain dan melakukan transaksi.

Hal itu diungkapkan Guru Besar Universitas Bina Darma Prof. Dr. Edi Surya Negara dalam webinar “Bijak Digital Tanpa Judi Online”, Senin, 14 September 2026.

Edi menjelaskan, penyedia judi online memanfaatkan algoritma untuk membaca perilaku dan karakter pengguna. Data mengenai aktivitas digital kemudian dapat digunakan untuk menentukan iklan atau penawaran yang dianggap mampu menarik perhatian seseorang.

Menurutnya, salah satu cara yang digunakan adalah menciptakan kesan bahwa pengguna hampir memperoleh kemenangan. Kondisi tersebut dapat membuat pemain semakin penasaran dan terdorong melakukan top up kembali.

“Algoritma judi online didesain, dirancang, diprogram atau dikompilasi untuk kemenangan bandar,” jelasnya.

Ia mengatakan, aspek psikologis menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Keinginan mendapatkan uang secara cepat, takut mengalami kerugian, kebutuhan pengakuan sosial hingga rasa penasaran dapat dimanfaatkan untuk mendorong seseorang melakukan klik.

Edi juga mengingatkan bahwa media sosial dan marketplace dapat menjadi salah satu pintu masuk paparan promosi judi online.

Karena itu, perlindungan data pribadi menjadi sangat penting. Menurutnya, masyarakat harus menyadari bahwa aktivitas yang dilakukan di ruang digital dapat meninggalkan jejak dan membentuk profil pengguna.

Selain persoalan data, Edi menyoroti hubungan antara judi online dan pinjaman online.

Ketika seseorang mengalami kekalahan dan kehabisan uang, mereka dapat terdorong mencari pinjaman untuk kembali bermain. Kondisi tersebut kemudian membentuk lingkaran utang yang semakin sulit dihentikan.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan layanan keuangan digital secara bijak dan tidak menjadikannya sebagai modal untuk berjudi.

Dalam kesempatan tersebut, Edi mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau AI untuk pencegahan. Menurutnya, AI tidak seharusnya hanya dimanfaatkan untuk memprofil pengguna, tetapi juga dapat digunakan untuk mendeteksi pola aktivitas ilegal dan memberikan peringatan dini.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPR RI Sabam Rajagukguk menilai masyarakat perlu memperkuat kemampuan literasi digital agar mampu membedakan aktivitas yang bermanfaat dan berbahaya di ruang digital.

Rektor Universitas Sains Indonesia Dr. Ir. Endah Murtiana Sari mengajak masyarakat mengalihkan penggunaan teknologi ke aktivitas produktif, seperti desain, pembuatan video, bisnis online, pembelajaran dan pengembangan keterampilan.

Menurutnya, prinsip yang perlu diterapkan adalah berpikir sebelum mengeklik atau “think before you click”.

Webinar tersebut menjadi momentum untuk mengajak masyarakat lebih kritis terhadap berbagai jebakan digital sekaligus memanfaatkan teknologi sebagai sarana meningkatkan keterampilan dan membuka peluang produktif.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *