Obon Tabroni: Pembangunan Keluarga dan Perbaikan Gizi Jadi Kunci Mewujudkan SDM Unggul

Matarakyat24.com, KABUPATEN BEKASI — Pembangunan keluarga, peningkatan kualitas gizi, dan penguatan layanan kesehatan merupakan bagian penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Besarnya jumlah penduduk Indonesia perlu diimbangi dengan upaya peningkatan kesehatan, kesejahteraan, serta kualitas kehidupan keluarga agar menjadi kekuatan dalam pembangunan nasional.

Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI, H. Obon Tabroni, S.E., dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Senin (12/10/2026).

Dalam pemaparannya, Obon menyampaikan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang besar dapat menjadi modal pembangunan apabila dikelola dengan baik. Namun, jumlah tersebut juga menghadirkan tantangan apabila tidak disertai peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.

Ia menyoroti persoalan stunting yang masih menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan nasional. Berdasarkan angka yang disampaikannya, prevalensi stunting nasional masih berada di kisaran 20 persen, sedangkan di Kabupaten Karawang sekitar 17 persen. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa upaya penurunan stunting masih membutuhkan kerja berkelanjutan dan kolaborasi berbagai pihak.

Obon juga menyinggung karakteristik kawasan industri di wilayah Karawang yang memiliki aktivitas ekonomi besar dan menyerap banyak tenaga kerja. Menurutnya, pertumbuhan industri perlu berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya, termasuk dalam aspek kesehatan dan kualitas lingkungan.

“Jangan sampai daerah yang disebut kawasan industri justru hanya mendapatkan polusi udara, sementara masyarakat di sekitarnya tidak merasakan kesejahteraan yang sepadan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, dunia industri, pemerintah daerah, dan lembaga yang menangani pembangunan keluarga diperlukan agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Dalam konteks peningkatan kualitas kesehatan, Obon menilai pembangunan fasilitas layanan kesehatan perlu diimbangi dengan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gizi dan pola hidup sehat. Menurutnya, fasilitas kesehatan yang memadai akan memberikan manfaat lebih besar apabila masyarakat juga memiliki pemahaman yang baik mengenai pencegahan penyakit dan pemenuhan kebutuhan gizi.

Obon turut menyoroti pentingnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu upaya yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung, khususnya anak-anak usia sekolah. Pelaksanaan program tersebut, menurutnya, memerlukan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan agar berjalan sesuai standar, transparan, dan tepat sasaran.

Ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan program pemenuhan gizi membutuhkan koordinasi antara berbagai kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta unsur terkait lainnya. Selain itu, pengelolaan dapur dan pelatihan tenaga pelaksana menjadi bagian penting untuk memastikan makanan yang disediakan memenuhi standar yang ditetapkan.

Obon juga membagikan contoh perubahan kebiasaan makan anak di sekolah setelah program berjalan. Ia menceritakan bahwa anak-anak yang sebelumnya kurang menyukai sayuran mulai bersedia mengonsumsinya. Dalam contoh yang disampaikannya, jumlah anak yang mau makan sayur di sebuah sekolah meningkat dari lima menjadi sekitar 30 anak.

Menurutnya, perubahan tersebut menunjukkan bahwa pembiasaan makan sehat sejak dini dapat menjadi bagian dari pendidikan gizi yang berkelanjutan.

Lebih jauh, Obon menilai program makan bersama di sekolah juga memiliki dimensi sosial. Ketika anak-anak dari latar belakang ekonomi berbeda memperoleh menu yang sama dan makan bersama, mereka berkesempatan membangun rasa kebersamaan dan kesetaraan sejak dini.

Ia berharap program pembangunan keluarga, peningkatan gizi, dan pelayanan kesehatan dapat berjalan beriringan untuk mendukung tumbuh kembang anak. Dengan demikian, keluarga tidak hanya menjadi tempat pengasuhan, tetapi juga lingkungan utama dalam membangun kebiasaan hidup sehat dan karakter generasi mendatang.

Obon menekankan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia membutuhkan kerja bersama yang konsisten. Pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, keluarga, dan masyarakat perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing agar pembangunan kesehatan dan keluarga memberikan manfaat jangka panjang.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *