Magarakyat24.com, Yogyakarta – Anggota DPD RI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), R.A. Yashinta Sekarwangi Mega mengajak generasi muda untuk aktif memahami kebijakan publik sekaligus peduli terhadap kelestarian lingkungan. Dorongan tersebut disampaikan Yashinta saat menggelar talkshow Jogja Youth Town Hall bertema “Semangat Muda Merawat Bangsa, Budaya, dan Bumi” di SMA Negeri 1 Kasihan Bantul dan SMA Negeri 1 Yogyakarta, Rabu (14/10/2026). Forum interaktif ini menjadi wadah dialog dua arah, sarana pendidikan politik dasar bagi para pelajar sekolah menengah atas, sekaligus edukasi penanganan sampah elektronik.
Dalam sesi diskusi tersebut, Yashinta menekankan bahwa generasi muda perlu memahami pentingnya kesadaran politik dan keberanian anak muda dalam mengawal isu-isu publik. Menurutnya, keputusan politik berpengaruh langsung pada berbagai aspek kehidupan generasi muda di masa depan.
“Maka dari itu selalu aku sampaikan bahwa teman-teman sebagai anak muda yang hari ini kita bicara tentang Indonesia Emas 2045 itu enggak boleh Golput. Karena nanti kalau sampai pemimpin yang menang bukan yang sesuai teman-teman harapkan, harga kopi mahal, lapangan pekerjaan susah, itu karena salah memilih pemimpin,” tegas Yashinta.
Yashinta juga mendorong terwujudnya meaningful participation, di mana keterlibatan anak muda bukan sekadar formalitas pelengkap, melainkan benar-benar didengar, dipertimbangkan, dan memberi dampak nyata.
“Jabatan politik ini kan lima tahun ya, jadi minimal punya komitmen untuk mendengarkan curhatan, keluh kesah, aspirasi teman-teman apalagi sekarang ada sosial media. Jadi gak ada alasan politisi tidak bekerja atau tidak tahu apa yang terjadi di lapangan,” ucap Yashinta.
Sementara itu narasumber talkshow Rafa Jafar, Founder E-WasteRJ, mengajak pelajar untuk lebih bijak dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah elektronik (e-waste). Ia menilai kebiasaan mengolah dan memilah sampah elektronik perlu ditanamkan sejak dini melalui lingkungan sekolah agar menjadi gaya hidup berkelanjutan.
“Terlepas dari regulasinya apa, terlepas dari kewajibannya apa, kita mau menjadikan pembuangan sampah itu menjadi kebiasaan yang mudah diingat. Kita mulai dari sekolah-sekolah pastinya untuk membangun kebiasaan itu dari pas kalian masih kecil, nanti biar jadi sebuah habit pas udah gede,” terang Rafa.
Selain menekankan pentingnya kebiasaan sejak dini, Rafa juga menyinggung mengenai pentingnya pengadaan tempat sampah khusus e-waste di lingkungan sekolah. Menurutnya, tersedianya tempat sampah khusus ini sangat krusial agar para pelajar dapat menyalurkan limbah elektronik bekas dengan aman serta terpilah dengan benar dari sampah domestik lainnya.
“Kita butuh bantuan teman-teman, kita gak bisa sendirian. Kita butuh bantuan teman-teman untuk memilah sampah dari barang elektronik bekas supaya kita bisa daur ulang. Jadi nanti, di SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta akan disediakan tempat sampah khusus untuk tempat sampah elektronik,” ucap Rafa.
Menutup kegiatan, Yashinta kembali berpesan agar para pelajar tetap bersikap kritis, tidak ragu menyuarakan keresahan mereka, serta terus membuka jaringan sebagai persiapan menjadi pemimpin masa depan. Ia juga mengingatkan bahwa keberlanjutan suatu daerah dan bangsa bertumpu pada kepekaan warganya terhadap isu sosial serta ekologis di sekitarnya.
“Aku memohon kerjasama gotong royong teman-teman kita sebagai warga Daerah Istimewa Yogyakarta untuk terus menjadi individu yang kritis, tidak apatis dengan politik karena apapun hasil kebijakan itu menentukan kehidupan kita sehari-hari,” tutup Yashinta.***












