MATARAKYAT24, DHARMASRAYA –Suasana Pawai Budaya Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya pada Kamis (27/8/2026) mendadak menyita perhatian. Di antara kemeriahan 17 kontingen yang berjalan dari Pasar Sikabau hingga Koperasi Sawit Pusako Niniak Mamak, hadir penampilan unik nan menggelitik: rombongan berbusana hantu.
Aksi “hantu hutan” ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan simbolis tajam. Pesan yang diusung sangat jelas hutan yang selama ini menjadi rumah mereka telah musnah, memaksa para “hantu” mengungsi dan ikut berbaur dalam pawai di jalanan.
Fenomena ini selaras dengan jeritan nyata Komunitas Suku Anak Dalam (SAD) yang turut memadati barisan pawai bersama warga jorong serta pelajar sekolah setempat. Kehadiran SAD menyuarakan krisis ruang hidup di tengah konflik lahan sekitar 2.300 hektare dengan pihak perusahaan PT KBL.
“Kami sudah puluhan tahun dan bergenerasi tinggal di kawasan hutan ulayat Nagari Sikabau atas arahan Niniak Mamak. Kami tegas mendukung Niniak Mamak melawan mafia tanah yang merusak ruang hidup kami,” tegas Nasir, salah satu warga SAD. Agus Prianto, anggota SAD lainnya, turut berharap konflik sengketa lahan ini segera mendapat kepastian hukum tanpa mengancam kelangsungan hidup komunitas mereka.
Sementara itu, Ketua Koperasi Sawit Pusako Niniak Mamak Sikabau, Herianto Dt. Mandaro, menegaskan bahwa pawai ini menjadi ajang persatuan seluruh elemen nagari. Ia mendesak pemerintah untuk segera turun tangan memediasi konflik secara adil.
Aksi sindiran “hantu hutan” dan kehadiran komunitas SAD di sepanjang Jalan Lintas Sumatra ini menjadi pengingat keras: ketika hutan tergerus mafia tanah, tidak hanya adat dan manusia yang kehilangan ruang hidup, tetapi alam pun ikut hilang keseimbangannya.












