SEMARANG — Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Tengah mengembangkan inovasi SIMASKOM yang diprakarsai oleh Sekretaris DP3AKB Provinsi Jawa Tengah, Suparmanto Dwiadi, S.Sos., M.Si. Inovasi tersebut, singkatan dari Sistem Manajemen Informasi Pengembangan Kompetensi. Inisiatif ini menjadi bagian dari rancangan aksi perubahan kinerja organisasi tahun 2026 dengan perhatian utama pada keberlanjutan pengelolaan kompetensi aparatur sipil negara (ASN).
Pengembangan SIMASKOM berangkat dari kebutuhan untuk memperbaiki pemantauan dan evaluasi tingkat kompetensi pegawai. Kondisi yang ingin dibenahi mencakup data kompetensi yang tersebar, rekapitulasi manual, riwayat pelatihan yang sulit ditelusuri, serta keterlambatan penyajian informasi bagi pimpinan.
Melalui SIMASKOM, proses administrasi tersebut dirancang bergeser menuju sistem manajemen berbasis data. Informasi capaian jam pelajaran (JP) dan jenis pengembangan kompetensi pegawai akan dihimpun dalam satu pengelolaan digital. Rancangan fungsinya meliputi input dan dokumentasi data, pemantauan capaian JP, penelusuran riwayat kompetensi, pemetaan kebutuhan pengembangan kompetensi, serta dasbor informasi untuk mendukung evaluasi dan pengambilan keputusan.
Pada tahap awal, SIMASKOM dirancang menggunakan Google Script dan Google Spreadsheet sebagai sarana pengelolaan informasi kompetensi. Teknologi tersebut mendukung pencatatan capaian pengembangan kompetensi secara digital. Agar manfaatnya berkelanjutan, setiap unit perlu menjaga kelengkapan data, memperbarui riwayat pembelajaran pegawai, dan memanfaatkan hasil pemantauan untuk menyusun kebutuhan pengembangan kompetensi berikutnya.
Keberlanjutan menjadi titik tekan implementasi SIMASKOM. SIMASKOM diharapkan tumbuh sebagai instrumen kerja organisasi, bukan proyek digital yang selesai setelah masa uji coba. Data pengembangan kompetensi yang tersimpan secara tertib dapat membantu mengidentifikasi pegawai yang telah mengikuti pelatihan, memantau capaian pembelajaran, serta menyusun prioritas pengembangan kompetensi secara lebih terarah.
Dalam implementasi SIMASKOM ini juga menempatkan kolaborasi sebagai syarat penting. Kepala DP3AKB, jajaran Sekretariat, bidang-bidang, UPTD PPA, dan pelaksana memiliki peran dalam mendukung penerapan serta pemanfaatan sistem. Sosialisasi dan pendampingan direncanakan melalui pembelajaran klasikal maupun nonklasikal, terutama untuk memperkuat kompetensi digital, literasi teknologi, kemampuan input data, dan penggunaan informasi SIMASKOM.
Dalam jangka panjang, pengelolaan yang konsisten perlu disertai evaluasi berkala atas kualitas data, kemudahan penggunaan, kebutuhan fitur, dan manfaatnya bagi perencanaan pengembangan kompetensi. Mekanisme pembaruan data dan penanggung jawab pengelolaan juga penting dijaga agar informasi tetap relevan saat terjadi pergantian personel atau perubahan kebutuhan organisasi.
SIMASKOM diharapkan menjadi dasar perencanaan pengembangan kompetensi yang lebih tepat sasaran. Melalui catatan riwayat pelatihan dan capaian jam pelajaran, kebutuhan belajar setiap pegawai dapat dikenali secara lebih sistematis. Informasi ini dapat membantu organisasi menentukan prioritas pelatihan, pendampingan, pembelajaran mandiri, dan bentuk pengembangan kompetensi lain sesuai kebutuhan tugas serta kesenjangan kemampuan yang teridentifikasi. Dengan demikian, pengembangan pegawai tidak hanya berorientasi pada jumlah kegiatan yang diikuti, tetapi juga pada relevansi pembelajaran dan peningkatan kapasitas kerja.
Pada akhirnya, SIMASKOM ditujukan untuk membangun budaya belajar dan pengembangan kompetensi yang berkesinambungan di DP3AKB Provinsi Jawa Tengah. Dengan pemetaan kebutuhan, pencatatan riwayat belajar, pemantauan capaian, serta evaluasi berkala, setiap pegawai diharapkan memperoleh kesempatan pengembangan yang lebih terarah dan relevan dengan pekerjaannya. Penguatan kompetensi ASN tersebut diharapkan mendukung peningkatan kinerja organisasi dan kualitas pelayanan kepada masyarakat Jawa Tengah.












