Matarakyat24.com, BOGOR, JAWA BARAT — Peningkatan kualitas sumber daya manusia membutuhkan perhatian serius terhadap kesehatan, pemenuhan gizi, dan pembangunan keluarga. Besarnya jumlah penduduk Indonesia harus diimbangi dengan peningkatan kualitas hidup agar menjadi modal penting dalam mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan H. Obon Tabroni, S.E., Anggota Komisi IX DPR RI, dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).
Dalam pemaparannya, Obon menyampaikan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang besar dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan baik. Namun, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan apabila tidak disertai peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyoroti persoalan stunting yang masih membutuhkan perhatian dan penanganan secara berkelanjutan. Berdasarkan data yang disampaikannya, prevalensi stunting nasional masih berada di kisaran 20 persen, sedangkan di Kabupaten Karawang sekitar 17 persen. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.
Obon juga menyinggung tantangan pembangunan di kawasan industri. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dan aktivitas industri harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk dalam aspek kesehatan dan kualitas lingkungan.
Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga perlu dilihat dari sejauh mana masyarakat memperoleh manfaat nyata berupa akses layanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan gizi, dan peningkatan kualitas hidup keluarga.
Dalam konteks tersebut, Obon menilai kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan gizi menjadi faktor penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Ketersediaan fasilitas kesehatan perlu disertai edukasi yang memadai agar masyarakat memahami pentingnya pencegahan penyakit, pemenuhan gizi seimbang, serta penerapan pola hidup sehat.
Obon turut menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu upaya pemenuhan gizi yang menyentuh langsung kebutuhan anak-anak usia sekolah. Menurutnya, program tersebut memiliki potensi untuk mendukung pembentukan kebiasaan makan sehat sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di lingkungan pendidikan.
Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan MBG membutuhkan koordinasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga terkait, hingga unsur masyarakat. Pengawasan terhadap standar pengolahan makanan, transparansi pelaksanaan, serta pelatihan tenaga pengelola menjadi bagian penting untuk memastikan program berjalan dengan baik.
Dalam pemaparannya, Obon menceritakan contoh perubahan kebiasaan makan anak-anak sekolah setelah program berjalan. Anak-anak yang sebelumnya kurang menyukai sayuran mulai terbiasa mengonsumsinya. Ia mencontohkan sebuah sekolah yang jumlah anak yang bersedia makan sayur meningkat dari lima menjadi sekitar 30 anak.
Menurutnya, perubahan sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari proses membangun perilaku hidup sehat sejak usia dini. Pembiasaan makan bergizi perlu dilakukan secara konsisten agar anak-anak semakin mengenal makanan sehat dan memahami manfaatnya bagi pertumbuhan.
Selain manfaat kesehatan, Obon juga menyoroti dimensi sosial dari program makan bersama di sekolah. Ketika anak-anak dari latar belakang ekonomi berbeda memperoleh makanan dengan menu yang sama, kesempatan untuk membangun rasa kebersamaan dan kesetaraan menjadi lebih terbuka.
Ia menilai lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk kepercayaan diri dan karakter anak. Oleh karena itu, kebijakan yang mendukung pemenuhan kebutuhan dasar anak perlu memperhatikan aspek kesehatan sekaligus kondisi sosial mereka.
Obon menegaskan bahwa pembangunan keluarga, peningkatan gizi, dan pelayanan kesehatan harus berjalan secara terpadu. Keluarga perlu memperoleh dukungan agar mampu memberikan pengasuhan yang baik, membangun kebiasaan sehat, dan memastikan kebutuhan tumbuh kembang anak terpenuhi.
Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat, upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi Indonesia yang sehat, produktif, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.***












