MUNAS BEM SI Kerakyatan Diwarnai Dugaan Kekerasan, Koordinator Pusat Terlibat Pemukulan

Ket: kekerasan fisik yang melibatkan sejumlah peserta forum

Jambi, 29 Juli 2026 – Pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) BEM SI Kerakyatan yang diharapkan menjadi ruang konsolidasi gerakan mahasiswa justru diwarnai insiden dugaan kekerasan fisik yang melibatkan sejumlah peserta forum. Peristiwa tersebut memicu keprihatinan karena dinilai mencederai semangat demokrasi, musyawarah, dan nilai-nilai intelektualitas yang selama ini menjadi fondasi gerakan kemahasiswaan.

 

Aliansi mahasiswa pada dasarnya dibangun atas prinsip kesetaraan, kolektivitas, dan kebebasan menyampaikan pendapat. Perbedaan pandangan seharusnya diselesaikan melalui dialog dan argumentasi, bukan melalui tindakan yang mengarah pada kekerasan. Insiden yang terjadi dalam rangkaian Munas BEM SI Kerakyatan ini dinilai telah menimbulkan pertanyaan serius mengenai komitmen seluruh pihak dalam menjaga etika organisasi mahasiswa.

 

Berdasarkan kronologi yang disampaikan oleh peserta yang berada di lokasi, insiden bermula pada Selasa, 29 Juli 2026, sekitar pukul 14.30 WIB, ketika berlangsung forum nonformal koordinasi BSJB yang dihadiri delapan perguruan tinggi. Pada tahap awal, forum berlangsung tertib dan kondusif dengan agenda diskusi internal.

 

Sekitar pukul 15.45 WIB, menurut kronologi tersebut, dua orang yang disebut berada di luar kepengurusan kelembagaan memasuki ruangan forum. Kehadiran keduanya disebut mengganggu jalannya diskusi yang sedang berlangsung. Situasi mulai memanas setelah salah satu dari mereka menyampaikan pernyataan, “Kalau akhirnya tidak suka dengan salah satu pihak, gentleman saja, blak-blakan.”

 

Ucapan tersebut memicu perdebatan di dalam forum. Meski suasana menjadi tegang, saat itu disebut belum terjadi kontak fisik antarpeserta. Dua orang yang disebut memasuki forum tersebut diidentifikasi dalam kronologi sebagai Fadly dan Raul.

 

Tidak lama kemudian, keduanya keluar dari ruangan. Sesaat setelah itu, salah satu di antaranya kembali masuk dan mempertanyakan keberadaan beberapa peserta dengan menyebut nama “Paramadina”, “Adjie”, dan “Carlo”, yang merupakan perwakilan dari delapan kampus peserta forum.

 

Menanggapi hal tersebut, Carlo, Adjie, dan seorang peserta lainnya keluar dari ruangan. Sekitar pukul 16.30 WIB, di depan kamar tempat forum berlangsung, mereka melihat sekitar sepuluh orang telah berkumpul bersama Ikram yang disebut menjabat sebagai Koordinator Pusat BEM SI Kerakyatan.

 

Menurut kronologi tersebut, adu argumentasi kemudian terjadi antara kelompok tersebut dengan Carlo. Perdebatan itu diduga berujung pada tindakan pemukulan terhadap Carlo yang disebut dilakukan oleh Ikram. Dalam insiden yang sama, Adjie juga disebut menjadi korban kekerasan berupa pemukulan dan tendangan yang mengenai bagian kelaminnya.

 

Situasi semakin tidak kondusif ketika Ican berupaya melerai pertikaian. Namun, berdasarkan keterangan yang disampaikan, saat proses peleraian berlangsung diduga terjadi kembali tindakan kekerasan terhadap Carlo yang disebut dilakukan oleh Hayat.

 

Melihat situasi semakin memanas, sejumlah mahasiswa dari Universitas Pakuan berupaya melerai dan menghentikan pertikaian. Namun adu argumen kembali terjadi antara Ikram dan Ican yang, menurut kronologi tersebut, kembali berujung pada dugaan pemukulan terhadap Ican.

 

Setelah kejadian tersebut, Carlo dan Adjie segera diamankan oleh rekan-rekan mahasiswa guna menghindari eskalasi lebih lanjut. Sejumlah peserta lainnya, yakni David, Suaib, Rapoy, dan Rizky, disebut turut membantu proses peleraian hingga situasi berangsur kondusif.

 

Seluruh peserta BSJB kemudian dikumpulkan dalam satu ruangan untuk melakukan evaluasi terhadap insiden yang terjadi. Saat dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi korban, Carlo dilaporkan mengalami luka pada bagian belakang telinga yang mengeluarkan darah akibat dugaan pemukulan tersebut.

 

Setelah situasi dinilai terkendali, mahasiswa dari Universitas Pakuan dan Universitas Paramadina memutuskan kembali menuju bandara.

 

Peristiwa ini menjadi sorotan karena terjadi dalam forum yang semestinya menjadi ruang demokratis bagi mahasiswa untuk bertukar gagasan dan membangun konsolidasi gerakan. Hingga rilis ini disusun, kronologi tersebut merupakan versi yang disampaikan oleh pihak peserta forum. Belum terdapat keterangan resmi maupun tanggapan dari pihak-pihak yang disebut dalam kronologi terkait dugaan kekerasan tersebut.

 

Apabila dugaan tersebut benar, berbagai pihak berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara terbuka, objektif, dan sesuai mekanisme hukum maupun mekanisme organisasi, sehingga tidak mencederai marwah gerakan mahasiswa sebagai kekuatan moral yang menjunjung tinggi dialog, etika, dan penyelesaian konflik secara damai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *