PELAYANAN KESEHATAN DI SIJUNJUNG KEMBALI DISOROT, WARGA KELUHKAN PUSKESMAS MUARO GAMBOK TAK RESPONS SAAT KONDISI DARURAT

Sijunjung – Persoalan pelayanan kesehatan di Kabupaten Sijunjung kembali menjadi sorotan publik. Setelah sebelumnya viral dugaan buruknya pelayanan di Puskesmas Tanjung Ampalu yang menuai keluhan dari keluarga pasien, kini keluhan serupa kembali mencuat dari masyarakat.

Kali ini, dugaan kelalaian pelayanan terjadi di Puskesmas Muaro Gambok. Seorang warga bernama Budi Warman mengaku kecewa terhadap pelayanan puskesmas tersebut setelah tidak mendapatkan respons saat datang dalam kondisi membutuhkan pertolongan medis darurat.

Peristiwa itu terjadi pada Minggu (17/5/2026) sekitar pukul 03.00 WIB. Budi Warman mengaku mengalami sakit serius pada bagian ginjal dengan kondisi yang terus memburuk sehingga membutuhkan penanganan medis segera.

“Sekitar pukul 04.00 WIB saya sampai di Puskesmas Muaro Gambok untuk mencari pertolongan pertama. Namun kondisi di sana sangat mengecewakan,” ungkapnya.

Menurut pengakuannya, setibanya di puskesmas ia bersama rekannya berusaha memanggil petugas jaga dengan menggedor pintu berulang kali. Bahkan rekannya juga mencoba menghubungi admin maupun petugas melalui sambungan telepon. Namun hingga hampir satu jam menunggu, tidak ada satu pun petugas yang memberikan respons.

“Dalam kondisi menahan sakit, saya terus mencoba memanggil petugas, tapi sampai sekitar pukul 05.00 WIB tidak ada yang keluar memberikan pelayanan,” katanya.

Karena kondisi kesehatannya semakin memburuk, Budi akhirnya memutuskan menuju RSUD Ahmad Syafii Ma’arif untuk mendapatkan penanganan medis.

Ia mengaku bersyukur masih mampu mengendarai sepeda motor sendiri menuju rumah sakit. Namun menurutnya, kejadian tersebut bisa berakibat fatal apabila dialami pasien dengan kondisi yang lebih kritis.

“Kalau kejadian seperti ini dialami pasien yang benar-benar darurat, tentu kita tidak tahu apa yang akan terjadi,” ujarnya.

Kejadian tersebut kembali memunculkan kritik masyarakat terhadap kesiapsiagaan pelayanan kesehatan di Kabupaten Sijunjung. Fasilitas kesehatan yang seharusnya menjadi tempat pertolongan pertama dinilai belum maksimal memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam kondisi darurat.

Selain pelayanan medis, Budi juga menyoroti persoalan administrasi pelayanan kesehatan yang menurutnya masih kerap dirasakan rumit dan menyulitkan masyarakat.

Ia berharap persoalan ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sijunjung maupun Dinas Kesehatan agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan kesehatan di daerah tersebut.

“Pelayanan kesehatan bukan sekadar formalitas administratif, tetapi menyangkut keselamatan dan nyawa masyarakat. Jika kondisi seperti ini terus terjadi, maka kepercayaan publik terhadap pelayanan kesehatan di Kabupaten Sijunjung akan semakin menurun,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *