MATARAKYAT24, DHARMASRAYA –Senyum sumringah kembali terpancar dari raut wajah para petani karet di Kabupaten Dharmasraya. Setelah sekian lama dihantam harga yang stagnan, kini harga getah karet melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp20.400 per kilogram. Kenaikan drastis ini menjadi angin segar sekaligus penyambung asa bagi sebagian kecil petani yang masih setia bertahan di tengah gempuran alih fungsi lahan.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren beralih ke perkebunan kelapa sawit memang tak terelakkan di Dharmasraya. Mayoritas petani memilih membabat pohon karet mereka lantaran tenaga yang dikeluarkan tak sebanding dengan harga jual yang tak kunjung naik.
Namun, lonjakan harga pada pertengahan September ini seolah membalikkan keadaan dan membakar kembali semangat para penderes getah yang tersisa.
Salah seorang petani karet setempat, Abdur, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya usai melepas hasil panennya dengan harga tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Alhamdulillah, harga karet tembus Rp20.400 per kilo. Saya baru saja jual karet, dan dengan harga segini kita jadi tambah semangat ngaritnya (menderes),” ujar Abdur saat dijumpai di kawasan perkebunannya, Sabtu (19/9/2026).
Abdur mengaku, sebelum lonjakan harga ini terjadi, ia sudah berada di ambang keputusan sulit untuk menebang habis kebun karetnya dan menggantinya dengan kelapa sawit, mengikuti jejak sebagian besar rekannya.
Perbandingan antara berkebun karet dan sawit memang terbilang timpang dari sisi beban kerja. Berkebun karet menuntut ketahanan fisik dan disiplin harian yang tinggi
Petani karet wajib pergi ke kebun dan menderes setiap hari. Jika tidak bekerja sehari saja, tidak akan ada pemasukan.
Tantangan terbesar datang ketika hujan turun usai seharian bekerja. Getah karet yang sudah ditampung akan arut bercampur air hujan, membuat kerja keras dari pagi hingga sore musnah seketika.
Di sisi lain, kelapa sawit tidak memerlukan perawatan harian sepadat karet, namun tetap mampu menghasilkan pendapatan yang relatif stabil.
“Dulu saya sudah siap tebang pohon karet ini untuk diganti sawit, melihat yang lain sudah pada pindah. Kalau karet ini kan kalau tidak ngarit ya tidak dapat duit, mana harganya dulu tidak pernah naik. Sudah capek ngarit dari pagi sampai sore, begitu hujan, getahnya bercampur air dan rusak. Itu risiko berat kami,” kenang Abdur.
Kini, dengan bertahannya harga di angka Rp20.400 per kg, keputusan Abdur dan beberapa petani tersisa untuk tidak terburu-buru menebang pohon karet terbukti membuahkan hasil. Mereka yang bertahan kini menuai buah dari kesabarannya.
Meski demikian, para petani tetap realistis. Mereka menyadari betul bahwa komoditas karet memiliki dinamika tersendiri yang penuh tantangan. Diharapkan pemerintah dan pihak terkait dapat menjaga stabilitas harga ini agar keringat para penderes karet terus dihargai secara adil.
“Kebun karet memang tidak bikin hidup langsung kaya mendadak, tapi terbukti bisa membuat kami bertahan hidup. Kami sangat berharap harga karet bisa terus stabil tinggi, karena kerja dan tantangannya di lapangan sangat luar biasa,” pungkas Abdur.












