BKKBN Jawa Barat Perkuat Lima Program Prioritas untuk Tingkatkan Kualitas Keluarga

BEKASI – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) terus mendorong peningkatan kualitas keluarga melalui berbagai program prioritas yang menyasar anak, orang tua, keluarga berisiko stunting, hingga penduduk lanjut usia.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si., menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (17/10/2026).

Dadi menjelaskan, jumlah penduduk Jawa Barat pada 2026 mencapai 51.163.888 jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut. Jumlah penduduk yang besar menjadi potensi pembangunan daerah, tetapi juga membutuhkan perencanaan yang matang dalam pemenuhan kebutuhan kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan kesejahteraan keluarga.

Ia turut menyoroti kondisi keluarga berisiko stunting di Jawa Barat. Berdasarkan data 2025 yang dipaparkan, terdapat 1.443.350 keluarga berisiko stunting dari sekitar 7,56 juta keluarga sasaran.

Selain faktor gizi dan kesehatan ibu serta anak, kondisi sanitasi dan ketersediaan air minum layak juga menjadi perhatian. Data yang disampaikan menunjukkan masih terdapat keluarga yang belum memiliki akses memadai terhadap sumber air minum dan jamban layak.

Menurut Dadi, pencegahan stunting perlu dilakukan melalui pendekatan menyeluruh dengan memperhatikan kondisi kesehatan, lingkungan tempat tinggal, dan kesejahteraan keluarga. Pemanfaatan data keluarga juga diperlukan untuk memastikan program pemerintah dapat menjangkau kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Dalam kesempatan tersebut, Dadi menjelaskan lima program prioritas pembangunan keluarga yang sebelumnya dikenal sebagai Quick Wins. Program tersebut meliputi Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Super Apps Keluarga berbasis kecerdasan buatan atau AI, serta Lansia Berdaya (SIDAYA).

Program TAMASYA berfokus pada peningkatan kualitas pengasuhan anak melalui layanan penitipan anak yang aman dan mendukung tumbuh kembang. Program ini juga mendorong peningkatan kompetensi pengasuh serta keterlibatan orang tua dalam memantau perkembangan anak.

Sementara itu, GENTING diarahkan untuk memberikan dukungan kepada keluarga yang berisiko mengalami stunting. Pelaksanaannya melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, kader Posyandu, tenaga kesehatan, komunitas masyarakat, hingga pihak lain yang dapat memberikan bantuan sesuai kebutuhan keluarga sasaran.

Dadi juga menjelaskan GATI sebagai program untuk memperkuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Peran ayah dinilai penting dalam mendukung perkembangan anak, membangun kedekatan emosional, dan menciptakan ketahanan keluarga.

Adapun Super Apps Keluarga berbasis AI dikembangkan untuk memudahkan masyarakat memperoleh informasi, konsultasi, dan pendampingan mengenai persoalan keluarga. Layanan tersebut diharapkan membantu masyarakat mendapatkan informasi mengenai pengasuhan anak, kesehatan keluarga, dan kebutuhan lainnya secara lebih mudah.

Program SIDAYA berfokus pada peningkatan kesejahteraan dan kemandirian penduduk lanjut usia. Melalui program ini, lansia didorong untuk tetap sehat, memperoleh pendampingan sesuai kebutuhan, serta berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan yang mendukung kualitas hidup mereka.

Dadi menegaskan, keberhasilan pembangunan keluarga membutuhkan sinergi pemerintah, masyarakat, tenaga kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan. Pemanfaatan data yang akurat serta pelaksanaan program sesuai kebutuhan masyarakat menjadi bagian penting dalam meningkatkan efektivitas pelayanan.

Melalui lima program prioritas tersebut, Kemendukbangga/BKKBN diharapkan dapat memperkuat ketahanan keluarga pada berbagai tahapan kehidupan, mulai dari pengasuhan anak dan pencegahan stunting hingga pemberdayaan lansia. Upaya ini menjadi bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berkualitas di Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *