GATI Dorong Ayah Lebih Aktif dalam Pengasuhan untuk Bangun Generasi Berkualitas

Matarakyat24.com – Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak menjadi salah satu perhatian penting dalam pembangunan keluarga. Kehadiran ayah tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter, kesehatan mental, dan kemandirian anak.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Sabtu (3/10/2026).

Sekretaris Dinas, Juniardiana Rosatijawan, ST., MM., menjelaskan bahwa pembangunan generasi tangguh harus dilakukan pada setiap tahapan kehidupan, termasuk melalui penguatan peran keluarga dalam pengasuhan.

Ia menyoroti fenomena fatherless atau kurangnya keterlibatan ayah dalam kehidupan anak yang dinilai dapat memberikan dampak terhadap perkembangan anak dan remaja.

Dalam pemaparannya disebutkan bahwa angka fatherless di Indonesia mencapai 25,8 persen, sementara ayah yang benar-benar terlibat dalam pengasuhan anak tercatat sekitar 20,9 persen.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).

GATI dirancang untuk mengajak para ayah dan calon ayah agar semakin aktif dalam mendampingi anak, mulai dari masa persiapan pernikahan, saat menjadi orang tua, hingga ketika anak memasuki usia remaja.

Program ini memiliki sejumlah layanan, antara lain konsultasi ayah gratis, konsorsium penggiat dan komunitas ayah teladan atau KOMPAK TENAN, Desa/Kelurahan Ayah Teladan (DEKAT), serta Sekolah Bersama Ayah (SEBAYA).

Selain itu, terdapat Kelas Ayah Idaman (AMAN), Gerakan Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS), serta Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak (GEMAR).

Keterlibatan ayah juga dinilai penting dalam membantu anak menghadapi berbagai tekanan kehidupan. Terlebih, masalah kesehatan mental pada remaja menjadi tantangan yang semakin perlu mendapatkan perhatian keluarga.

Dalam pemaparan tersebut disebutkan bahwa sekitar 33 persen remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental, tetapi hanya sebagian kecil orang tua yang menyadari bahwa anak mereka membutuhkan bantuan.

Karena itu, ruang aman untuk bercerita bagi remaja menjadi penting. Pemerintah turut memperkenalkan layanan konsultasi “Halo Remaja” sebagai tempat bagi remaja untuk mendapatkan ruang cerita dan dukungan.

Sementara bagi para ayah, tersedia “Halo GATI” sebagai ruang untuk memperoleh informasi, berkonsultasi, dan belajar mengenai pengasuhan anak serta pendampingan remaja.

Selain penguatan peran ayah, pembangunan keluarga juga diarahkan pada pemenuhan kebutuhan anak sejak usia dini.

Program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) menjadi salah satu upaya menghadirkan pengasuhan berkualitas bagi anak ketika orang tua, khususnya pasangan yang bekerja, tidak dapat mendampingi anak sepanjang waktu.

TAMASYA dirancang sebagai tempat penitipan anak dengan lingkungan pengasuhan yang aman dan mendukung tumbuh kembang. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi anak, orang tua, maupun pemberi kerja.

Bagi anak, pengasuhan yang berkualitas mendukung tumbuh kembang. Bagi orang tua, terutama ibu bekerja, fasilitas tersebut dapat membantu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Sementara bagi perusahaan, dukungan terhadap pengasuhan anak dapat memberikan dampak positif terhadap produktivitas pekerja.

Anggota Komisi IX DPR RI, H. Obon Tabroni, S.E., menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari keluarga.

Menurutnya, pemenuhan gizi, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan pengasuhan yang baik harus berjalan secara bersamaan.

Ia juga menyoroti pentingnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam mendukung pemenuhan gizi anak sekaligus membangun kebiasaan makan sehat sejak dini.

Sementara itu, program GENTING mendorong keterlibatan masyarakat sebagai Orang Tua Asuh bagi keluarga yang berisiko stunting. Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa makanan bergizi, tetapi juga dapat mencakup rumah layak huni, akses air bersih, jamban sehat, edukasi, serta pemberdayaan ekonomi keluarga.

Pembangunan keluarga juga mencakup kelompok lanjut usia. Melalui program SIDAYA atau Lanjut Usia Berdaya, pemerintah mendorong agar lansia tetap sehat, mandiri, produktif, dan memiliki kehidupan yang bermartabat.

Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia dilakukan melalui pendekatan siklus hidup, mulai dari balita, anak dan remaja, dewasa, hingga lanjut usia.

Kolaborasi antara pemerintah, keluarga, dunia usaha, organisasi masyarakat, komunitas dan masyarakat menjadi faktor penting agar seluruh program dapat berjalan efektif.

Dengan keluarga yang sehat, pengasuhan yang berkualitas, keterlibatan ayah yang lebih kuat, pemenuhan gizi yang baik, serta dukungan bagi lansia, pembangunan keluarga diharapkan mampu melahirkan generasi tangguh dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *