Matarakyat24.com – Pemilih pemula memiliki posisi strategis dalam menentukan masa depan demokrasi Indonesia. Karena itu, penguatan literasi politik dan kepemimpinan generasi muda perlu dilakukan sejak dini, termasuk melalui lingkungan sekolah dan organisasi pelajar.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kegiatan Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan pada Senin, 10 Agustus 2026. Sekretaris Anak Muda Berkarya, Supi Septia Wahyuni, menekankan pentingnya membentuk pemilih pemula yang cerdas, bebas, dan bertanggung jawab dalam menggunakan hak politiknya.
Menurutnya, pemilu merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat. Karena itu, pemilih pemula perlu memahami bahwa suara yang diberikan bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari proses menentukan kepemimpinan dan arah kebijakan pemerintahan.
Pemilih pemula didorong untuk mengenali calon sebelum menentukan pilihan, termasuk mempelajari visi, misi, dan program yang ditawarkan. Pilihan politik harus lahir dari hati nurani dan keyakinan sendiri, bukan karena paksaan, tekanan, popularitas, maupun imbalan.
Sejumlah tantangan seperti hoaks, politik uang, minimnya informasi tentang calon, serta potensi konflik akibat perbedaan pilihan juga menjadi perhatian. Pemilih pemula diharapkan mampu menyaring informasi dan mengambil keputusan berdasarkan sumber yang dapat dipercaya.
Sementara itu, aktivis perempuan Seli Diana Putri menyoroti pentingnya membangun kesadaran politik dan kepemimpinan generasi muda sejak lingkungan sekolah. Sekolah dinilai tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, integritas, dan kesadaran demokrasi.
Menurut Seli, OSIS dapat menjadi salah satu wadah strategis untuk melatih kepemimpinan pelajar. Melalui organisasi tersebut, siswa dapat belajar menyampaikan aspirasi, bermusyawarah, mengambil keputusan, bekerja sama, serta bertanggung jawab terhadap program yang dijalankan.
Budaya demokrasi di sekolah juga dapat diperkuat melalui berbagai kegiatan, seperti simulasi pemilu, debat kandidat, pemilihan pengurus secara transparan, hingga pemanfaatan teknologi dalam proses pemungutan suara. Forum OSIS juga dapat dikembangkan sebagai ruang kolaborasi antarorganisasi pelajar untuk bertukar gagasan dan membangun jejaring.
Penguatan kepemimpinan tersebut diharapkan mampu mendorong pelajar menjadi agen perubahan yang memiliki integritas, mampu menghargai perbedaan, serta berani menyampaikan aspirasi secara santun dan bertanggung jawab.
Baik Supi maupun Seli sama-sama menekankan bahwa masa depan demokrasi sangat dipengaruhi oleh kualitas generasi muda hari ini. Pemilih pemula tidak hanya perlu dipersiapkan untuk menggunakan hak pilih, tetapi juga dibentuk menjadi warga negara yang aktif, kritis, berintegritas, dan mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan pilihan politik.***












