Aliansi Mahasiswa IAIN Bone Tegaskan Kawal Seluruh Janji Pimpinan Kampus: Enam Tuntutan Diterima, Realisasi Jadi Harga Mati

Bone, Kamis 16 Juli 2026 – Aliansi Mahasiswa IAIN Bone telah melaksanakan audiensi bersama Rektor IAIN Bone, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, serta jajaran dekan yang turut hadir. Audiensi berlangsung secara terbuka, demokratis, dan penuh dialog sebagai bentuk upaya bersama dalam membangun tata kelola kampus yang lebih transparan, akuntabel, dan berpihak kepada kepentingan mahasiswa.
Dalam audiensi tersebut, Aliansi Mahasiswa IAIN Bone menyampaikan enam poin tuntutan yang dinilai mendesak untuk segera direalisasikan, yaitu:
1.Perbaikan infrastruktur sarana dan prasarana kampus yang hingga saat ini masih memerlukan pembenahan demi menunjang proses pembelajaran dan aktivitas kemahasiswaan.
2.Pembentukan kode etik dosen yang dianggap urgen sebagai pedoman profesionalisme, integritas, serta perlindungan terhadap hak-hak sivita akademika
3. Transparansi Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) yang selama ini dinilai tidak terbuka kepada mahasiswa sebagai bagian dari sivitas akademika.
4.Evaluasi dan penataan ulang penyaluran KIP Kuliah agar benar-benar tepat sasaran serta diberikan kepada mahasiswa yang berhak sesuai ketentuan.
5.Penerapan dan sosialisasi Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan seksual (PPKS), sekaligus melibatkan unsur mahasiswa dalam struktur satgas agar fungsi pencegahan dan penanganannya berjalan lebih efektif dan partisipatif.
6.Mendesak pihak kampus untuk membuka mekanisme banding Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada setiap semester, sehingga mahasiswa yang mengalami perubahan kondisi ekonomi dapat mengajukan penyesuaian UKT secara berkala tanpa harus menunggu kebijakan tertentu.
Dalam forum tersebut, seluruh tuntutan yang disampaikan Aliansi Mahasiswa IAIN Bone diterima oleh pimpinan kampus dan dinyatakan akan ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku. Aliansi memandang hal tersebut sebagai langkah awal yang positif, namun menegaskan bahwa komitmen tersebut harus dibuktikan melalui kebijakan dan tindakan nyata.
Di sisi lain, Aliansi Mahasiswa IAIN Bone menyayangkan ketidakhadiran Wakil Rektor II yang membidangi administrasi umum, perencanaan, dan keuangan. Ketidakhadiran tersebut dinilai menjadi catatan penting karena sejumlah isu strategis, seperti transparansi RKAT, banding UKT, hingga kebijakan anggaran kampus, berada dalam lingkup kewenangan Wakil Rektor II. Aliansi berharap pada pertemuan lanjutan seluruh unsur pimpinan dapat hadir agar proses penyelesaian persoalan berjalan lebih efektif.
Jenderal Lapangan Aliansi Mahasiswa IAIN Bone, Rian Ade Saputra, menegaskan bahwa audiensi bukan akhir dari perjuangan mahasiswa.
Kami mengapresiasi sikap Rektor beserta jajaran yang menerima Aliansi Mahasiswa IAIN Bone secara terbuka dan menyatakan kesediaannya menindaklanjuti seluruh tuntutan. Namun kami tegaskan, mahasiswa tidak membutuhkan janji semata. Kami membutuhkan langkah konkret, target waktu yang jelas, dan realisasi yang dapat dirasakan. Seluruh hasil audiensi ini akan kami kawal. Apabila komitmen tersebut tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh, Aliansi Mahasiswa IAIN Bone siap kembali mengonsolidasikan gerakan sebagai bentuk kontrol terhadap kebijakan kampus.”
Sementara itu, Inal Hamda menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa bukan sekadar menyampaikan aspirasi, tetapi memastikan adanya perubahan yang nyata.
“Transparansi anggaran bukanlah bentuk intervensi mahasiswa terhadap kebijakan kampus, melainkan bagian dari prinsip akuntabilitas yang harus dijunjung tinggi. Begitu pula dengan banding UKT setiap semester, itu merupakan bentuk keadilan bagi mahasiswa yang kondisi ekonominya dapat berubah sewaktu-waktu Kami juga menuntut agar KIP Kuliah benar-benar tepat sasaran dan Satgas PPKS segera disosialisasikan dengan melibatkan mahasiswa secara aktif. Kami menyayangkan ketidakhadiran Wakil Rektor II karena pembahasan mengenai anggaran dan UKT membutuhkan penjelasan langsung dari pihak yang berwenang. Kami akan terus mengawal seluruh hasil audiensi ini hingga terealisasi.”
Aliansi Mahasiswa IAIN Bone menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral mahasiswa dalam mengawal tata kelola kampus yang lebih baik. Audiensi ini bukanlah titik akhir, melainkan awal dari pengawalan terhadap seluruh komitmen yang telah disampaikan pimpinan kampus. Mahasiswa memastikan bahwa setiap tuntutan akan terus dipantau hingga benar-benar diwujudkan demi terciptanya IAIN Bone yang lebih transparan, responsif, dan berpihak pada kepentingan seluruh sivitas akademika.
Aliansi Mahasiswa IAIN Bone Tegaskan Kawal Seluruh Janji Pimpinan Kampus: Enam Tuntutan Diterima, Realisasi Jadi Harga Mati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *