BONE, Matarakyat24.com___ Himpunan Mahasiswa islam HmI Cabang Bone (HMI) Melayankan Keritik keras Terhadap terhadap kinerja Pengurus Besar (PB) HMI. Melalui Kepala Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Kepemudaan (Kabid PTKP) HMI Cabang Bone, Arfah, mereka secara resmi melayangkan mosi tidak percaya kepada nakhoda tertinggi organisasi hijau-hitam tersebut.
Arfah menilai, PB HMI hari ini terkesan menutup mata, telinga, dan membisu di tengah badai persoalan bangsa yang kian hari kian mencekik rakyat kecil. Mulai dari isu ekonomi, ketimpangan sosial, hingga kebijakan politik yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat luas.
Kehilangan Khittah Perjuangan
Menurut Arfah, HMI sebagai organisasi yang mengusung komitmen keislaman dan keindonesiaan seharusnya berdiri di garis terdepan sebagai mitra kritis pemerintah dan penyambung lidah rakyat. Namun, realitas hari ini justru menunjukkan hal sebaliknya.
“Kami melihat PB HMI hari ini kehilangan taringnya. Tidak ada sikap yang jelas, tegas, dan progresif terhadap kondisi kebangsaan kita yang sedang carut-marut. PB HMI seolah-olah asyik dengan dunianya sendiri dan terjebak dalam pragmatisme politik,” ujar Arfah dalam keterangan persnya, [ Minggu, 14/6/26].
Tuntutan HMI Cabang Bone
Arfah menegaskan, mosi tidak percaya ini bukan sekadar riak dinamika biasa, melainkan akumulasi dari keresahan kader di tingkat cabang yang menyaksikan pusat kekuasaan organisasi mengalami kelumpuhan gerakan.
Ada beberapa poin utama yang mendasari mosi tidak percaya dari Kabid PTKP HMI Cabang Bone ini:
1. Absennya Sikap Kritis: PB HMI dinilai gagal merespons isu-isu krusial nasional yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak.
2. Kemandulan Gerakan: Tidak adanya instruksi atau gerakan masif yang bersifat solutif maupun aksi nyata dari pusat untuk menyikapi problematika negara.
2. Pragmatisme Elitis: Adanya indikasi bahwa elit PB HMI lebih mementingkan komunikasi politik elit ketimbang mengawal substansi perjuangan fah mengajak seluruh HMI Cabang se-Indonesia untuk bersama-sama mengevaluasi total kinerja PB HMI demi menyelamatkan marwah organisasi.
“HMI dibentuk untuk umat dan bangsa, bukan untuk kepentingan segelintir orang di jajaran pengurus besar. Jika PB HMI tidak mampu lagi menjadi kompas moral dan intelektual bagi bangsa ini, maka sudah sepatutnya kita sebagai kader di daerah mengambil sikap tegas demi menyelamatkan khittah perjuangan HMI,” pungkas Arfah.***












