Sragen— Mahasiswa Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar kegiatan sosialisasi dan edukasi bertema pembuatan arang briket dari limbah sekam padi di Desa Pandak, Kecamatan Sidoharjo pada hari Jumat (31/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Elsa Agusti Nurhasanah ini digagas sebagai upaya meningkatkan nilai jual limbah pertanian yang selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat.

Desa Pandak yang mayoritas warganya berprofesi sebagai petani menghasilkan limbah sekam padi dalam jumlah cukup besar setiap musim panen. Selama ini, sekam padi umumnya hanya dibiarkan menumpuk, dibakar begitu saja, atau bahkan dibuang tanpa diolah lebih lanjut. Padahal, jika diolah dengan tepat, sekam padi dapat disulap menjadi arang briket yang memiliki nilai ekonomis dan dapat menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, warga diberikan pemahaman mengenai proses pembuatan arang briket, mulai dari tahap pembakaran sekam padi menjadi arang, penghalusan, pencampuran dengan bahan perekat, pencetakan, hingga proses pengeringan briket agar siap digunakan maupun dipasarkan. Selain pemaparan materi, peserta juga diajak untuk melihat langsung praktik pengolahan sekam padi menjadi briket, sehingga dapat memahami secara nyata setiap tahapan produksinya.
Kegiatan ini turut menekankan potensi ekonomi dari pengolahan limbah sekam padi. Briket arang sekam padi dinilai memiliki peluang pasar yang cukup menjanjikan, baik sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga maupun kebutuhan industri kecil, mengingat sifatnya yang lebih tahan lama dan ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar konvensional. Dengan pengolahan yang tepat, limbah yang semula tidak bernilai dapat diubah menjadi produk yang mampu menambah penghasilan warga.
Selain nilai ekonomi, sosialisasi ini juga menyoroti manfaat lingkungan dari pengolahan sekam padi menjadi briket. Kebiasaan membakar sekam padi secara terbuka yang selama ini dilakukan warga dinilai dapat menimbulkan polusi udara serta pemborosan sumber daya. Dengan mengolahnya menjadi briket, limbah pertanian dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekitar.
“Kami ingin sekam padi yang selama ini dianggap limbah tidak berguna bisa diolah menjadi produk yang punya nilai jual, sekaligus membantu warga mengurangi kebiasaan membakar sekam secara terbuka,” ujar Elsa Agusti Nurhasanah, penginisiasi kegiatan sosialisasi tersebut.
Antusiasme warga terlihat selama kegiatan berlangsung. Banyak peserta yang tertarik untuk mencoba memproduksi briket arang sekam padi secara mandiri di rumah maupun secara berkelompok, mengingat bahan baku yang mudah didapat dan proses pembuatannya yang tidak terlalu rumit. Sejumlah warga juga aktif bertanya seputar teknik pengeringan, daya tahan briket, hingga strategi pemasaran produk agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Melalui kegiatan ini, Mahasiswa Tim II KKN Undip berharap masyarakat maupun petani Desa Pandak dapat menjadi langkah awal bagi warga Desa Pandak untuk mengembangkan usaha pengolahan limbah pertanian secara berkelanjutan. Ke depannya, diharapkan muncul kelompok usaha kecil yang secara rutin memproduksi arang briket dari sekam padi, sehingga selain membantu mengurangi limbah pertanian, kegiatan ini juga d












