Fasilitas Megah Berbanderol Ratusan Miliar Tak Mempan, Siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Dharmasraya Kabur dari Asrama

Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Dharmasraya

MATARAKYAT24, DHARMASRAYA –Kemegahan fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Kabupaten Dharmasraya yang dibangun dengan anggaran pusat senilai puluhan hingga ratusan miliar rupiah ternyata tak sepenuhnya mampu membuat para siswanya betah. Seorang siswi yang baru saja menempuh jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sekolah berkonsep boarding school tersebut nekat kabur dari asrama menjelang waktu Subuh.

Beruntung, aksi nekat anak di bawah umur tersebut berhasil digagalkan oleh warga setempat yang menemukannya berkeliaran di tengah kegelapan malam.

“Kejadiannya sejak Minggu malam. Kami menyelamatkannya sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, lalu paginya langsung kami antar kembali ke sekolah,” ungkap salah seorang warga sekitar yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Sumber tersebut menambahkan bahwa insiden anak kabur dari kompleks sekolah mewah tersebut bukan pertama kali terjadi. Fenomena ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat, mengingat fasilitas yang disediakan pemerintah di SRT 3 terbilang sangat lengkap dan eksklusif.

Menanggapi insiden tersebut, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Dharmasraya, Almen, memberikan klarifikasi. Saat dikonfirmasi via pesan singkat WhatsApp pada Rabu (12/8/2026), Almen membantah tuduhan bahwa anak didiknya sengaja kabur karena masalah berat di sekolah. Menurutnya, siswi tersebut hanya mengalami kejutan budaya (culture shock) dan rindu rumah (homesick).

“Bukannya kabur, anak kita ini memang belum terbiasa dengan sistem boarding. Maklum, masih proses penyesuaian. Dia menangis ingin pulang. Kami bersama wali asuh sudah berupaya membujuk, dan saat ini masih tahap mediasi. Mudah-mudahan ananda mau kembali lagi ke sekolah,” jelas Almen.

Kendati demikian, Almen tidak menampik bahwa kepulangan siswi tersebut dari area asrama memang terjadi tanpa sepengetahuan pihak pengelola sekolah.

“Memang pulang tanpa sepengetahuan sekolah. Saat ini anak tersebut berada di rumah. Wali asuh terus berkoordinasi secara intensif dengan orang tuanya untuk membujuk sang anak agar mau melanjutkan sekolahnya,” tambahnya.

Almen menegaskan bahwa dinamika ini murni dipicu oleh proses adaptasi lingkungan baru bagi anak-anak yang belum pernah jauh dari orang tua. Pihaknya juga membenarkan bahwa dari segi sarana dan prasarana, SRT 3 memiliki fasilitas yang sangat memadai.

“Hal ini sebenarnya diakibatkan anak-anak belum terbiasa dan baru memulai adaptasi. Semoga kedepannya anak-anak kita bisa beradaptasi dengan baik. Untuk fasilitas, sama-sama kita ketahui memang cukup mewah,” tutur Almen.

Atas kejadian ini, pihak sekolah telah melaporkan dan berkoordinasi dengan instansi atasan guna mencari formulasi terbaik dalam menangani siswa yang mengalami kendala adaptasi di lingkungan boarding school.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *