KAMPUS BERDAMPAK, DOSEN BERDAMPAK, ALUMNI BERDAMPAK: BUDIDAYA MAGGOT BSF DI SUNGAI SELAN

OLEH : Dr. Andri Kurniawan, S.Pi, M.P.

Dosen Program Studi Biologi UBB

Matarakyat24.COM–Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah dan kompetensi akademik. Lebih dari itu, kampus dituntut mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat itulah yang diwujudkan Universitas Bangka Belitung (UBB) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah.

Melalui kegiatan tersebut, dosen UBB mendampingi alumni Program Studi Akuakultur untuk mengembangkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam (Hermetia illucens). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat UBB ini diketuai Dr. Andri Kurniawan, dengan anggota Dr. Ardiansyah dan Dr. Muntoro. Program tersebut menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana pengetahuan perguruan tinggi dibawa keluar dari ruang kelas dan laboratorium untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Bagi tim pengabdi, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan budidaya maggot. Ada pesan yang lebih besar yang ingin dibangun, yakni memperkuat kembali hubungan antara kampus, dosen, alumni, dan masyarakat. Semangatnya sederhana: Kampus Berdampak, Dosen Berdampak, Alumni Berdampak.

Dari Alumni untuk Masyarakat

Alumni merupakan bagian penting dari perjalanan sebuah perguruan tinggi. Setelah menyelesaikan pendidikan, alumni tidak hanya menjadi bagian dari sejarah kampus, tetapi juga dapat menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat. Dalam kegiatan di Sungai Selan, alumni Program Studi Akuakultur UBB ditempatkan sebagai mitra strategis. Pengetahuan tentang akuakultur yang telah diperoleh selama kuliah kemudian diarahkan untuk menghasilkan kegiatan produktif yang dapat dikembangkan menjadi usaha.

Pilihan budidaya maggot BSF bukan tanpa alasan. Salah satu persoalan yang dihadapi dalam pengembangan budidaya ikan adalah tingginya biaya pakan. Pada saat yang sama, lingkungan sekitar masih menghasilkan limbah organik rumah tangga maupun pasar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dua persoalan tersebut kemudian dipertemukan melalui budidaya maggot. Limbah organik dapat dimanfaatkan sebagai media pakan maggot, sementara maggot yang dihasilkan berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pakan alternatif dalam kegiatan budidaya perikanan.

Dengan demikian, kegiatan yang awalnya terlihat sederhana mulai membentuk sebuah konsep ekonomi yang lebih luas: limbah menjadi sumber daya, sumber daya menjadi produk, dan produk menjadi peluang usaha.

Sampah Organik Tidak Lagi Sekadar Sampah

Alumni bersama tim pengabdi mulai mempraktikkan tahapan budidaya maggot BSF, mulai dari menyiapkan fasilitas, menyiapkan telur dan media penetasan, menetaskan telur menggunakan media ampas tahu, memelihara baby maggot, maggot hingga fase pupa, sampai menyiapkan kandang lalat BSF untuk menghasilkan telur kembali.Dengan demikian, alumni tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga pengalaman langsung dalam menjalankan siklus budidaya. Kegiatan tersebut menghasilkan fasilitas awal berupa kandang maggot dan lalat BSF serta rak untuk penetasan telur dan pembesaran maggot.

Salah satu hal menarik dari program ini adalah pemanfaatan limbah organik. Limbah rumah tangga dan limbah pasar yang sebelumnya tidak termanfaatkan mulai diarahkan menjadi sumber pakan maggot. Pendekatan ini memberikan dua manfaat sekaligus: membantu mengurangi limbah organik dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomi. Maggot BSF sendiri dikenal memiliki kemampuan menguraikan berbagai bahan organik. Larva BSF juga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif dalam kegiatan perikanan maupun peternakan.

Di sinilah konsep keberlanjutan mulai terlihat. Limbah organik yang berasal dari rumah tangga maupun pasar yang awalnya hanya dianggap sebagai sampah dan pencemar lingkungan, kini berubah menjadi suatu berkah yang berpotensi untuk mendorong kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Lahirnya Gagasan “Sheelan Harmoni”

Pendampingan juga memunculkan gagasan baru di kalangan alumni untuk mengembangkan unit usaha budidaya maggot dengan nama Sheelan Harmoni. Kelurahan Sungai Selan yang selama ini dikenal sebagai Kampung Integrasi Sawit-Sapi, dapat dikembangkan lebih terintegrasi dengan sektor perikanan akuakultur dan budidaya ikan sebagai subsektor pendukung akuakultur. Budidaya maggot juga dapat menjadi pakan unggas seperti ayam yang berarti maggot juga berkontribusi bagi pengambangan peternakan unggas. Sheelan Harmoni merupakan mimpi kecil yang dibangun oleh alumni UBB untuk menghubungkan antarsektor produksi terintegrasi. Sheelan Harmoni membawa pesan dan suatu harapan yang menjadi kenyataan di kemudian hari bahwa Sungai Selan menjadi lingkungan yang harmoni.

Ketika Kampus Hadir di Tengah Masyarakat

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen UBB ini menunjukkan bahwa keberadaan perguruan tinggi dapat memberikan dampak yang lebih luas apabila pengetahuan akademik dipadukan dengan potensi lokal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menjadi bentuk nyata pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam menghadirkan pengetahuan dan pengalaman untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Bagi alumni, kegiatan ini menjadi ruang untuk kembali mengaktualisasikan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. Bagi masyarakat, kegiatan tersebut membuka wawasan mengenai peluang pemanfaatan limbah organik dan pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal.

Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan kampus dan alumni tidak harus berhenti setelah wisuda. Alumni dapat kembali menjadi mitra kampus. Dosen dapat menjadi pendamping. Masyarakat menjadi penerima sekaligus penggerak manfaat.

Dari Kampus, Kembali ke Masyarakat

Kegiatan di Sungai Selan memberikan satu pelajaran penting: dampak perguruan tinggi tidak hanya dapat diukur dari jumlah lulusan, publikasi ilmiah, atau prestasi akademik. Dampak juga dapat dilihat dari perubahan yang terjadi di tengah masyarakat. Ketika alumni yang sebelumnya belum memiliki pengalaman teknis mulai mampu membangun unit budidaya, ketika lahan yang sebelumnya kurang produktif mulai dimanfaatkan, ketika limbah organik mulai memiliki nilai guna, dan ketika muncul keberanian untuk membangun usaha baru, di situlah dampak perguruan tinggi dapat dirasakan.

Program pengabdian berdasa dosen-dosen UBB tersebut menjadi contoh bahwa ilmu pengetahuan dapat bergerak dari kampus menuju masyarakat dan kembali dalam bentuk manfaat nyata. Karena pada akhirnya, kampus bukan hanya tempat menghasilkan lulusan. Kampus adalah tempat lahirnya pengetahuan, dosen adalah penggeraknya, alumni adalah jembatan ke masyarakat,  dan masyarakat adalah ruang tempat dampak itu diwujudkan. Salam Kampus Berdampak, Dosen Berdampak, Alumni Berdampak.***

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *