Jakarta, 19 Agustus 2026 — Peredaran narkoba terus berkembang dengan berbagai modus yang semakin sulit dikenali. Akademisi Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Yanto, Ph.D., mengingatkan pentingnya literasi, kewaspadaan, dan ketegasan orang tua untuk melindungi anak-anak dari ancaman tersebut.
Dalam Forum Diskusi Publik “Pemberantasan Narkoba”, Yanto menyampaikan bahwa narkoba tidak hanya menjadi persoalan kriminalitas, tetapi juga ancaman terhadap pendidikan, kesehatan, keluarga, produktivitas, dan pembangunan sumber daya manusia.
Ia menyebut kelompok usia produktif sebagai salah satu kelompok yang sangat rentan terdampak. Penyalahgunaan narkoba dapat mengganggu kemampuan belajar, konsentrasi, daya ingat, serta fungsi kognitif. Dampaknya kemudian dapat berujung pada menurunnya prestasi pendidikan dan hilangnya peluang generasi muda untuk berkembang secara optimal.
Menurut Yanto, anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian karena berada dalam fase pencarian identitas dan sangat dipengaruhi lingkungan pergaulan. Pengedar dapat memanfaatkan tekanan teman sebaya, manipulasi sosial, rasa ingin tahu, hingga persoalan pribadi untuk menjaring calon pengguna.
Modus peredaran juga terus berubah. Yanto mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap makanan, minuman, atau produk yang ditawarkan secara mencurigakan. Ia menyebut adanya penyamaran narkoba dalam berbagai bentuk, sehingga pengawasan terhadap jajanan dan lingkungan sekitar sekolah menjadi penting.
Menjawab pertanyaan peserta mengenai pengetahuan anak dan sekolah terhadap bentuk-bentuk narkoba, Yanto menekankan pentingnya peningkatan literasi. Orang tua dan sekolah harus mengikuti perkembangan informasi mengenai modus peredaran agar tidak tertinggal dibandingkan pelaku kejahatan yang terus mencari cara baru.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap tawaran barang gratis, harga yang tidak wajar, maupun permintaan untuk membawa atau menitipkan barang yang tidak diketahui isinya. Sikap kritis diperlukan agar seseorang tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak lain.
Dalam menjawab pertanyaan mengenai cara menjauhkan anak dari pergaulan yang berisiko, Yanto membagikan pengalaman sebagai orang tua. Menurutnya, orang tua perlu mengetahui lingkungan pergaulan anak, mengantar dan menjemput bila diperlukan, serta mengetahui tempat anak menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Ia menilai anak juga perlu dibekali kemampuan untuk bersikap “tega dan tegas”. Tega dalam arti berani memutus hubungan apabila suatu pergaulan terbukti membahayakan, sedangkan tegas berarti berani mengatakan tidak ketika mendapat tawaran atau ajakan yang berisiko.
Yanto menutup pemaparannya dengan mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena peredaran narkoba telah berkembang dengan berbagai modus. Bagi mereka yang belum pernah mencoba, ia berpesan agar tidak pernah memulai. Sementara bagi mereka yang sedang mengalami ketergantungan, ia mendorong agar segera mencari bantuan dan berusaha keluar dari kondisi tersebut.
Pesan tersebut menegaskan bahwa perlindungan terhadap generasi muda membutuhkan peran bersama. Literasi, komunikasi keluarga, pengawasan lingkungan, keberanian mengatakan tidak, serta akses terhadap bantuan menjadi bagian penting dalam membangun pertahanan masyarakat terhadap narkoba.










