MATARAKYAT24, DHARMASRAYA –Kabar gembira sekaligus angin segar berembus bagi para pekebun kelapa sawit di Kabupaten Dharmasraya. Berdasarkan laporan resmi dari sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang beroperasi di wilayah Dharmasraya per Jumat, 17 Juli 2026, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit menunjukkan tren yang positif dengan angka tertinggi mendekati Rp4.000 per kilogram.
Berdasarkan data yang dihimpun dari 8 PKS aktif di Dharmasraya, berikut adalah rincian pergerakan harga TBS hari ini:
•Harga Tertinggi: Rp3.912,-/kg (dicatatkan oleh PT. AWB sesuai harga Disbun).•Harga Terendah: Rp3.240,-/kg (dicatatkan oleh PT. Incasi Pangian).•Harga Rata-Rata: Rp3.423,-/kg, dengan selisih harga antar-PKS mencapai Rp672,-/kg.•Harga Brondolan: Rp3.700,-/kg (berdasarkan laporan dari PT. DSL)
Penyajian data harian ini merupakan komitmen Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya dalam menjaga transparansi informasi guna membantu para pekebun mengambil keputusan terbaik dalam pemasaran hasil panen mereka. Dinas Pertanian juga terus mendorong peningkatan kesejahteraan petani lewat program strategis, mulai dari pendampingan usaha tani hingga Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Kenaikan harga ini disambut hangat oleh para petani di lapangan. Ifif, salah seorang petani sawit di Kecamatan Pulau Punjung, mengaku sangat bahagia mendengar kabar meroketnya harga TBS ini.
Menurutnya, tren positif ini tidak lepas dari peran aktif Pemerintah Kabupaten Dharmasraya di bawah kepemimpinan Bupati Annisa.
“Kami sangat bersyukur. Ibu Bupati Annisa sangat peduli kepada kami para petani. Beliau selalu mengawal ketat perkembangan harga TBS dan bahkan tidak segan-segan turun langsung melakukan sidak ke Pabrik Kelapa Sawit untuk memastikan tidak ada permainan harga yang merugikan petani,” ungkap Ifif dengan wajah semringah. Saat di konfirmasi langsung pada Jumat (17/7/26) pagi
Meski harga di tingkat PKS dan ketetapan dinas sudah tinggi, realita di lapangan sering kali berbeda. Ifif mengeluhkan sikap sebagian oknum pengelola peron atau RAM sawit (pengepul) yang dinilai kurang transparan dan sering berdalih demi menekan harga beli dari petani kecil
“Sangat disayangkan, sebagian RAM sawit selalu bilang kalau harga belum stabil. Setiap kali kita mengantar buah, jawabannya : ‘Harga malam tadi turun dua ratus’ atau ‘Harga belum stabil’. Padahal di berita harganya sedang bagus,” sesal Ifif
Ia juga menyoroti fluktuasi harga di tingkat RAM yang dirasa tidak masuk akal karena berubah terlalu cepat. “Baru saja naik hari ini,bisa besok malamnya dibilang sudah turun lagi.”
“Bagi kami yang hanya punya sawit puluhan batang, harga turun sedikit saja itu sangat berpengaruh. Biaya pupuk sekarang mahal, belum lagi biaya perawatan, upah tukang panen, dan biaya lansir buah keluar kebun. Kami sangat berharap pihak RAM bisa mengikuti harga TBS resmi yang sudah ditetapkan pemerintah,” pungkasnya
Dengan adanya transparansi harga harian ini, para petani berharap dinas terkait, serta pemerintah daerah dapat memperketat pengawasan tidak hanya di tingkat PKS, melainkan juga hingga ke tingkat RAM (pengepul) agar kesejahteraan dapat dirasakan merata oleh seluruh lapisan petani sawit di Dharmasraya.












