Jakarta, 14/07/26 – Seorang anak di sebuah desa terpencil memulai harinya tanpa sarapan. Di ruang kelas, ia duduk bersama teman-temannya, mengikuti pelajaran yang sama, menggunakan buku yang sama, dan diajar oleh guru yang sama. Namun, ada satu hal yang berbeda: ia harus belajar sambil menahan lapar.
Kondisi seperti itu masih menjadi kenyataan bagi sebagian anak Indonesia. Di tengah semangat membangun Generasi Emas 2045, masih ada anak-anak yang belum mendapatkan akses yang cukup terhadap makanan bergizi. Padahal, masa depan mereka tidak hanya ditentukan oleh pendidikan, tetapi juga oleh apa yang mereka konsumsi setiap hari.
Persoalan inilah yang menjadi perhatian dalam Webinar Literasi Digital bertajuk “Mewujudkan Generasi Emas Melalui Nutrisi yang Merata” yang menghadirkan Anggota Komisi I DPR RI Rachel Maryam Sayidina, Plt. Deputi Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN) Dr. Gunalan, A.P., M.Si, serta Akademisi Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi UNIKA Atma Jaya, Yanto, Ph.D.
Rachel Maryam Sayidina mengingatkan bahwa Generasi Emas 2045 bukan sekadar target pembangunan, melainkan wajah anak-anak Indonesia yang sedang tumbuh hari ini. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang sama untuk berhasil, terlepas dari latar belakang ekonomi maupun tempat tinggalnya.
Namun, potensi itu bisa terhambat ketika kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi. Masalah stunting dan gizi buruk masih ditemukan di berbagai daerah, terutama di wilayah yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan dan distribusi pangan. Karena itu, pemerataan nutrisi menjadi langkah penting untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan meraih masa depan hanya karena lahir di lingkungan yang kurang beruntung.
Pesan serupa disampaikan Dr. Gunalan.
Ia menggambarkan bagaimana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir untuk menyamakan titik awal kehidupan anak-anak Indonesia. Tidak semua anak datang ke sekolah dengan kondisi yang sama. Ada yang berangkat setelah menikmati sarapan lengkap, tetapi ada pula yang harus belajar dengan perut kosong.
Menurutnya, program MBG bukan sekadar membagikan makanan. Di balik setiap porsi yang diterima anak-anak, terdapat harapan agar mereka dapat belajar dengan lebih fokus, tumbuh lebih sehat, dan memiliki peluang yang sama untuk berkembang. Program ini juga membantu meringankan beban keluarga yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan pangan.
“Ketika seorang anak bisa belajar tanpa rasa lapar, sesungguhnya kita sedang membuka pintu kesempatan yang lebih luas bagi masa depannya,” ungkapnya.
Sementara itu, Yanto, Ph.D., menyoroti bahwa nutrisi bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga tentang kualitas sumber daya manusia yang akan menentukan masa depan bangsa. Ia menjelaskan bahwa otak anak berkembang sangat pesat pada masa pertumbuhan. Kekurangan gizi dapat berdampak pada kemampuan belajar, daya ingat, hingga produktivitas saat dewasa.
Karena itu, pemerataan nutrisi harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Manfaatnya mungkin tidak selalu terlihat hari ini, tetapi hasilnya akan dirasakan bertahun-tahun kemudian ketika anak-anak tersebut tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
Di balik berbagai angka dan data yang sering dipaparkan, sesungguhnya ada jutaan kisah keluarga Indonesia yang berharap anak-anak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik. Ada orang tua yang bekerja keras setiap hari agar anaknya tetap bisa sekolah. Ada guru yang ingin murid-muridnya belajar dengan penuh semangat. Ada tenaga kesehatan yang berupaya memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal.
Semua pihak memiliki peran dalam mewujudkan cita-cita tersebut.
Pemerintah melalui kebijakan dan program, sekolah melalui pendidikan, tenaga kesehatan melalui pendampingan, serta masyarakat melalui kepedulian dan pengawasan bersama.
Pada akhirnya, Generasi Emas 2045 tidak akan lahir secara tiba-tiba pada tahun 2045. Generasi itu sedang tumbuh hari ini—di ruang kelas, di rumah-rumah sederhana, di desa, kota, pesisir, pegunungan, hingga daerah perbatasan. Mereka sedang belajar, bermimpi, dan menyiapkan diri menjadi masa depan Indonesia.
Dan mungkin, semua itu dimulai dari sesuatu yang sederhana: sepiring makanan bergizi yang hadir tepat pada waktunya.












