Opini : Sutan Sari Alam (Wartawan Mudah)
Matarakyat24.com/Dharmasraya – Di balik hiruk pikuk politik, rapat anggaran, serta dinamika kepentingan masyarakat, terkadang ada momen-momen kecil yang justru berbicara lebih lantang tentang wajah kepemimpinan dan kemanusiaan.
Salah satunya terjadi di sebuah siang menjelang sore di Kantor DPRD Dharmasraya, ketika Ketua DPRD Jemi Hendra, ST, tak menyangka hari ulang tahunnya yang ke-48 yang jatuh pada tanggal 18 Januari 2026 dirayakan secara sederhana namun penuh makna.
Tanpa seremoni resmi, tanpa baliho, tanpa protokoler kaku, tampa diduga-duga Kapolres Dharmasraya AKBP Kartyana Widyarso Wardoyo Putro melangkah masuk bersama jajaran.
Hanya membawa kue ulang tahun, senyum, dan doa. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Sebab dalam politik dan birokrasi, kehadiran yang tulus sering kali lebih bernilai daripada pidato panjang penuh formalitas.
Kejutan itu bukan sekadar ucapan selamat ulang tahun. Ia adalah pesan simbolik tentang relasi antarpilar kekuasaan di daerah. Bahwa sinergi legislatif dan kepolisian tidak harus selalu dibingkai dalam MoU, apel gabungan, atau konferensi pers.
Terkadang, ia hadir dalam bentuk yang sangat manusiawi silaturahmi, perhatian, dan rasa saling menghargai.
Wajah terkejut dan haru Jemi Hendra mencerminkan satu hal penting bahwa jabatan setinggi apa pun tetap menyisakan ruang bagi rasa.
Bahwa pemimpin bukan hanya mesin kebijakan, melainkan manusia yang juga membutuhkan sentuhan empati. Dalam iklim demokrasi lokal yang kerap dipenuhi gesekan kepentingan, momen seperti ini terasa langka sekaligus menenangkan.
Opini masyarakat sering kali menyoroti hubungan antarlembaga dari sudut konflik beda sikap politik, tarik-menarik kewenangan, hingga friksi kepentingan.
Namun peristiwa ini menawarkan narasi lain bahwa keharmonisan bukan ilusi. Ia bisa tumbuh ketika para pemangku jabatan mampu menanggalkan sekat ego dan memaknai kekuasaan sebagai alat pengabdian, bukan dominasi.
Ucapan Kapolres yang sederhana tentang kesehatan, kesuksesan, dan sinergi sesungguhnya menyimpan pesan yang lebih dalam, stabilitas daerah tidak hanya dijaga dengan seragam dan palu sidang, tetapi juga dengan kepercayaan dan komunikasi yang hangat. Ketika hubungan personal antar pimpinan terjalin baik, maka ruang-ruang krisis pun lebih mudah dikelola bersama.
Pada akhirnya, ulang tahun ke-48 Ketua DPRD Dharmasraya itu bukan tentang lilin atau kue. Ia adalah cermin kecil tentang bagaimana Dharmasraya seharusnya dikelola dengan kebersamaan, saling menghormati, dan kesadaran bahwa di balik jabatan, kita semua adalah manusia yang ingin dihargai.
Justru dari momen-momen sederhana seperti inilah harapan tentang pemerintahan yang sehat dan harmonis menemukan pijakan paling jujurnya.
Mungkin inilah wajah Dharmasraya yang diharapkan masyarakat daerah yang dipimpin oleh orang-orang yang tidak hanya bekerja dengan kewenangan, tetapi juga dengan hati.












