Melek Digital Bukan Sekadar Akses, Tapi Kemampuan Berpikir Kritis dan Etis

Matarakyat24.com, Jakarta, 28 April 2025 — Transformasi digital telah mengubah cara anak belajar secara fundamental. Namun, tantangan terbesar bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada kemampuan anak dalam mengelola informasi dan membangun pemahaman yang kritis.

Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM, Prof. Nyarwi Ahmad, dalam webinar nasional menyampaikan bahwa penetrasi internet yang tinggi di Indonesia belum sepenuhnya diiringi dengan peningkatan literasi digital.

“Akses sudah luas, tapi arah belum tentu benar. Anak-anak cepat mengakses, tapi belum tentu mampu mencerna dan memverifikasi,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa peran orang tua dan pendidik perlu bergeser dari pengontrol menjadi navigator. Anak-anak perlu didampingi melalui dialog, bukan sekadar diberikan larangan.

“Belajar di era digital harus berbasis interaksi. Kita masuk ke dunia mereka, bukan menarik mereka keluar secara paksa,” tambahnya.

Dari perspektif pendidikan, teknologi justru memiliki potensi besar untuk mengembangkan kreativitas dan berpikir kritis. Anak dapat belajar membuat konten, coding, hingga memecahkan masalah melalui berbagai platform digital.

Namun tanpa arahan, anak berisiko hanya menjadi konsumen pasif.
“Kuncinya adalah menggeser dari konsumsi ke kreasi. Dari sekadar menonton menjadi membuat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya integrasi tiga aspek utama dalam literasi digital, yaitu kemampuan berpikir kritis, etika digital, dan kreativitas.

Dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat menjadi alat akselerasi pembelajaran yang mampu menciptakan generasi yang adaptif dan berdaya saing global.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *