Matarakyat24, Sijunjung –Di tengah semarak kegiatan Kelas Karya: Kreasi Mug Ecoprint bertema “Seni Ramah Lingkungan Bernilai Ekonomis” yang digelar pada 28 Februari 2026 di Pondokopi, GOR Sibinuang Sakti, satu sesi menghadirkan napas berbeda: literasi sebagai fondasi peradaban. Melalui program Ngabuburead, Shifa Jauzaa Martabaya tampil membawa gagasan segar tentang pentingnya membangun ekosistem baca yang kolaboratif dan berkelanjutan.
Shifa, yang dikenal sebagai Staff Entrepreneurship SMB, Founder of Kopi Sora, sekaligus Lead Partnership Buku Bacarito, memosisikan literasi bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan gerakan sosial yang memerlukan strategi, jejaring, dan visi jangka panjang. Bersama moderator Al-Hafiza, ia mengajak peserta melihat literasi sebagai investasi intelektual bagi generasi muda.
Dalam pemaparannya, Shifa menegaskan bahwa peningkatan minat baca tidak bisa dibebankan pada satu komunitas saja. Dibutuhkan sinergi lintas organisasi, komunitas, hingga pelaku usaha untuk menciptakan ruang-ruang baca yang inklusif dan mudah diakses.
“Untuk meningkatkan minat baca pemuda dan masyarakat, kita perlu berkolaborasi dengan berbagai komunitas dan organisasi sekitar. Ketersediaan buku juga menjadi hal yang penting dalam meningkatkan literasi,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Menurutnya, literasi yang kuat lahir dari dua hal utama: akses dan ekosistem. Akses berarti memastikan buku tersedia dan mudah dijangkau, sementara ekosistem berarti menghadirkan ruang diskusi, komunitas baca, hingga aktivitas kreatif yang menjadikan membaca sebagai budaya, bukan kewajiban.
Konsep Ngabuburead yang diusung Shifa juga menghadirkan pendekatan inovatif yang menggabungkan diskusi ringan, suasana santai menjelang berbuka, serta interaksi komunitas, sehingga literasi terasa dekat dan relevan dengan kehidupan anak muda. Pendekatan ini membuktikan bahwa membaca tidak harus kaku, melainkan bisa menjadi pengalaman sosial yang menyenangkan dan membangun jejaring.
Kehadiran Shifa dalam forum tersebut memperlihatkan bagaimana literasi dapat dipadukan dengan semangat kewirausahaan dan kolaborasi komunitas. Ia mendorong lahirnya gerakan literasi yang tidak hanya meningkatkan angka baca, tetapi juga membentuk pola pikir kritis, kreatif, dan adaptif.
Di Muaro Sijunjung, sore itu, literasi tidak sekadar dibicarakan, ia dirancang sebagai gerakan bersama. Melalui gagasan dan kepemimpinan Shifa Jauzaa Martabaya, Ngabuburead menjadi simbol bahwa masa depan generasi muda ditentukan oleh seberapa kuat mereka membangun budaya baca hari ini. (Gus Fadhalur)
