Pegiat Literasi Digital Didi Dorong Masyarakat Manfaatkan Teknologi untuk Berkarya dan Berwirausaha

Matarakyat24.com, Jakarta – Teknologi digital tidak seharusnya hanya dimanfaatkan untuk menikmati hiburan dan mengikuti tren media sosial. Dengan kreativitas, kecakapan memilah informasi, dan tanggung jawab, masyarakat dapat menggunakan internet untuk menghasilkan karya, memperluas peluang usaha, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

 

Pesan tersebut disampaikan pegiat literasi digital Didi dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertema โ€œKreatif Berkarya Cerdas Bermedia dan Bijak Berkontenโ€, Senin, 12 Oktober 2026.

 

Dalam pemaparannya, Didi menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat dari sekadar konsumen menjadi kreator konten yang produktif. Menurutnya, setiap orang memiliki potensi untuk menghasilkan karya digital sesuai minat, kemampuan, dan lingkungan masing-masing.

 

Pelajar, misalnya, dapat membuat konten edukasi mengenai kehidupan sekolah atau kampus. Masyarakat yang memiliki keterampilan tertentu dapat membagikan pengetahuan melalui video pembelajaran, fotografi, ilustrasi, maupun podcast. Sementara itu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk dan menjangkau konsumen yang lebih luas.

 

Didi menegaskan bahwa karya digital tidak harus langsung sempurna atau menjadi viral. Hal terpenting adalah keberanian memulai, melakukan evaluasi, dan terus memperbaiki kualitas karya agar semakin bermanfaat.

 

Menurutnya, seseorang tidak harus terkenal untuk memberikan kontribusi positif di ruang digital. Konten sederhana yang mengedukasi, menginspirasi, atau membantu orang lain juga memiliki nilai penting bagi masyarakat.

 

Ia mencontohkan petani muda yang mampu memanfaatkan media digital untuk memasarkan hasil pertanian hingga menjangkau pasar di luar daerahnya. Pemanfaatan teknologi tersebut menunjukkan bahwa internet dapat menjadi sarana memperluas jaringan usaha sekaligus meningkatkan potensi pendapatan.

 

Didi juga mengingatkan bahwa peluang digital harus diimbangi dengan kesadaran terhadap berbagai risiko. Banjir informasi, konten viral yang belum tentu benar, penipuan daring, pencurian data pribadi, dan manipulasi konten merupakan tantangan yang perlu dihadapi pengguna internet.

 

Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk meningkatkan literasi digital agar mampu membedakan fakta, opini, interpretasi, dan informasi yang belum terverifikasi.

 

Menurutnya, popularitas suatu konten tidak dapat dijadikan ukuran kebenaran. Informasi yang terus muncul dan dibagikan berulang kali belum tentu sesuai dengan fakta sehingga pemeriksaan sumber dan konteks tetap diperlukan.

 

Didi menyarankan lima langkah sederhana sebelum membagikan informasi, yaitu memeriksa sumber, mengecek tanggal, memahami konteks, membandingkan informasi dengan media kredibel, serta mencari dokumen atau bukti pendukung.

 

Apabila kebenaran informasi belum dapat dipastikan, masyarakat sebaiknya menahan diri untuk tidak menyebarkannya sebagai fakta. Sikap tersebut dinilai penting untuk memutus rantai penyebaran hoaks yang dapat merugikan individu maupun masyarakat.

 

Selain kemampuan memeriksa informasi, Didi menyoroti pentingnya menjaga keamanan akun digital. Pengguna internet perlu memakai kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor, menjaga kerahasiaan PIN dan kode OTP, serta menghindari tautan mencurigakan.

 

Ia juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati ketika menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membuat konten.

 

Menurutnya, AI dapat membantu mencari ide, menyusun kerangka tulisan, mengembangkan konsep video, dan mendukung proses desain. Namun, teknologi tersebut tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir kritis manusia karena hasil yang dihasilkan AI masih dapat mengandung kesalahan.

 

Setiap konten yang dipublikasikan tetap menjadi tanggung jawab pembuatnya. Oleh sebab itu, verifikasi fakta, penghormatan terhadap hak cipta, dan perlindungan data pribadi harus diperhatikan sebelum karya disebarluaskan.

 

Didi turut menekankan pentingnya etika digital. Masyarakat tetap boleh menyampaikan kritik dan perbedaan pendapat, tetapi harus berfokus pada gagasan, bukan menyerang pribadi seseorang.

 

Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan foto, video, atau karya milik orang lain harus memperhatikan hak cipta dan ketentuan penggunaannya. Demikian pula dengan data pribadi, yang tidak boleh disebarkan secara sembarangan.

 

Untuk membantu masyarakat lebih berhati-hati, Didi memperkenalkan prinsip lima P sebelum mengunggah konten, yakni periksa kebenaran informasi, pikirkan tujuan, perhatikan privasi, hormati hak dan martabat orang lain, serta pastikan kesiapan untuk bertanggung jawab atas unggahan tersebut.

 

Dalam sesi tanya jawab, Didi menjelaskan bahwa literasi digital merupakan bekal penting agar seseorang dapat memanfaatkan teknologi secara kritis, aman, dan bijaksana. Penggunaan teknologi perlu disertai pemahaman mengenai etika, budaya digital, keamanan, dan kecakapan dalam mengelola informasi.

 

Ia juga menyarankan pendekatan persuasif untuk menghadapi orang yang terbiasa menyebarkan hoaks. Masyarakat dapat memberikan klarifikasi melalui informasi pembanding yang kredibel, kemudian mengingatkan orang tersebut secara pribadi dengan bahasa yang baik.

 

Menurutnya, edukasi perlu dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan komunitas. Dengan membangun kebiasaan memeriksa informasi serta menjaga emosi, masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh kabar yang belum terbukti kebenarannya.

 

Menutup pemaparannya, Didi mengajak masyarakat memanfaatkan konektivitas internet untuk kegiatan yang produktif, mulai dari belajar, mengembangkan kreativitas, memperluas usaha, hingga membangun jejaring sosial.

 

Ia berharap masyarakat dapat menjadi pencipta karya yang bernilai, penyaring informasi yang cerdas, dan penyebar konten yang bertanggung jawab. Dengan demikian, teknologi digital tidak hanya menjadi sarana konsumsi hiburan, tetapi juga instrumen untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *