MBG Rp335 Triliun: Makan Gratis Hari Ini, PHK Massal Besok

Didi Irawadi Syamsuddin, S.H., LL.M.| Lawyer | Writer | Politician
Didi Irawadi Syamsuddin, S.H., LL.M.| Lawyer | Writer | Politician

Oleh: Didi Irawadi Syamsuddin, S.H., LL.M.| Lawyer | Writer | Politician

Matarakyat24.com –Program Makan Bergizi Gratis (MBG) awalnya lahir dari niat yang mulia: memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang lebih baik. Namun, niat baik saja tidak cukup jika pelaksanaannya mengabaikan realitas fiskal dan kondisi ekonomi yang sedang rapuh. Ketika anggaran ratusan triliun rupiah digelontorkan di tengah penerimaan negara yang tertekan, utang yang terus bertambah, dan dunia usaha yang sedang lesu, publik berhak bertanya: apakah prioritas kita sudah tepat?

Di saat banyak pabrik mengurangi produksi, investasi melambat, dan ancaman PHK mulai menghantui berbagai sektor, negara justru memilih membakar energi politik dan fiskal pada program yang sangat mahal. Ironisnya, jika jutaan pekerja kehilangan pekerjaan, maka makan siang gratis tidak akan mampu menggantikan hilangnya penghasilan keluarga. Rakyat membutuhkan lapangan kerja yang kuat, ekonomi yang tumbuh sehat, dan dunia usaha yang percaya diri untuk berekspansi. Tanpa itu, MBG berisiko menjadi “obat pereda lapar” di tengah penyakit ekonomi yang jauh lebih serius.

Yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar membagi makanan, melainkan membangun fondasi ekonomi yang kokoh. Prioritas anggaran semestinya diarahkan terlebih dahulu pada penciptaan lapangan kerja, perbaikan sekolah yang rusak, peningkatan kesejahteraan guru, pembangunan infrastruktur dasar di daerah tertinggal, serta penguatan sektor produktif yang mampu menyerap tenaga kerja. Jika tidak dievaluasi secara menyeluruh, MBG bisa dikenang bukan sebagai program yang menyelamatkan generasi masa depan, melainkan sebagai simbol kebijakan populis yang mahal, tetapi gagal menjawab persoalan ekonomi yang paling mendesak.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *