Bone, Matarakyat24.com_____PC. Muhammadiyah Watampone sukses menggelar kegiatan workshop bertajuk “Penguatan Literasi Digital dan Dampaknya terhadap Perilaku Siswa di Media Sosial pada Era Transformasi Digital”pada Rabu (15/04/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Salomekko ini menghadirkan Dr. Muh Safar, S.Pd., M.Pd Wakil Ketua PC. Muhammadiyah Watampone bidang Pendidikan & Kesehatan sebagai pemateri. Workshop ini menjadi ruang refleksi kritis bagi dinamika generasi muda di ruang siber, yang diikuti dengan antusias oleh para siswa dan guru yang di hadiri pula bapak Rustan, S.Pd Kepala SMK Muhammadiyah Salomekko, Andi Tabrani Rasyid , S.Pd., M.Pd Ketua PC Muhammadiyah Watampone dan beberapa pengurus PCM.
Dr. Safar, yang jg menjabat Wakil Rektor (Warek) 1 (Satu) UNIM Bone, memaparkan beberapa rekomendasi strategis yang perlu menjadi perhatian bersama dalam menghadapi era digital:
1. Integrasi Kurikulum,Penguatan literasi digital tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial atau workshop sesaat. Diperlukan integrasi sistematis dalam kurikulum sekolah melalui pembelajaran berbasis proyek digital yang mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial.
2. Peran Krusial Guru, Guru perlu menjadi fasilitator literasi digital yang dibekali pelatihan berkelanjutan terkait etika digital, keamanan siber, serta pemanfaatan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran. Tanpa kesiapan guru, transformasi digital di sekolah hanya akan bersifat simbolik, bukan substantif.
3. Kolaborasi Ekosistem, Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat harus diperkuat. Perilaku digital siswa dibentuk di ruang kelas, lingkungan keluarga, dan sosial. Oleh karena itu, pendekatan literasi digital harus bersifat ekosistem, bukan parsial.
4. Budaya Konten Positif, Sekolah perlu mendorong siswa memanfaatkan media sosial sebagai ruang ekspresi yang produktif, seperti membuat konten edukatif, kewirausahaan digital, maupun promosi nilai-nilai budaya lokal.
“Dengan demikian, media sosial tidak lagi menjadi ancaman, tetapi peluang strategis bagi pengembangan potensi siswa,” ujar Dr. Safar dalam pemaparannya.

Ke depan, harapan besar tertuju pada lahirnya generasi siswa yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga berkarakter kuat, beretika, dan memiliki kesadaran kritis dalam bermedia. Transformasi digital di dunia pendidikan harus mampu melahirkan manusia pembelajar sepanjang hayat yang adaptif terhadap perubahan, tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan budaya.
Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal menuju gerakan literasi digital yang lebih luas dan berkelanjutan, khususnya di lingkungan sekolah Muhammadiyah.
“Sebab pada akhirnya, kualitas peradaban digital suatu bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana generasi mudanya memahami, menggunakan, dan memaknai teknologi secara bijak,” tutup Dr. Safar.












