Ketahanan Energi Jadi Pilar Utama Kedaulatan Nasional di Tengah Krisis Global

Matarakyat24.com, Jakarta, 2 Maret 2026 — Ketahanan energi ditegaskan sebagai salah satu pilar utama dalam menjaga kedaulatan nasional Indonesia di tengah dinamika krisis energi global dan ketidakpastian geopolitik internasional. Hal tersebut mengemuka dalam Forum Diskusi Publik bertajuk “Ketahanan Energi: Pilar Kedaulatan Nasional” yang diselenggarakan secara daring pada Senin (2/3).

Forum ini menghadirkan Anggota Komisi I DPR RI Dr. Desy Ratnasari, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Dr. Ir. Dadan Kusdiana, serta Dekan Fakultas Sosial & Ekonomi Universitas Teknologi Nusantara M. Zeinny sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Dr. Desy Ratnasari menegaskan bahwa isu energi saat ini tidak lagi terbatas pada sektor teknis, melainkan telah menjadi faktor strategis yang menentukan stabilitas ekonomi, sosial, hingga politik suatu negara. Krisis energi global pasca pandemi serta konflik geopolitik dunia menunjukkan bahwa negara yang bergantung pada impor energi berada pada posisi rentan terhadap tekanan eksternal.

Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan besar karena lebih dari 85 persen bauran energi nasional masih bertumpu pada energi fosil. Ketergantungan tersebut berdampak langsung terhadap stabilitas fiskal negara, terutama ketika harga energi dunia meningkat dan pemerintah harus mengalokasikan subsidi dalam jumlah besar untuk menjaga daya beli masyarakat.

Ketahanan energi, menurut Desy, memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketersediaan listrik yang andal menentukan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, produktivitas ekonomi, hingga pemerataan pembangunan nasional. Meski rasio elektrifikasi nasional telah mencapai lebih dari 99 persen, kesenjangan kualitas pasokan listrik masih terjadi di sejumlah wilayah terpencil dan daerah 3T.

Senada dengan hal tersebut, Sekjen Dewan Energi Nasional Dr. Ir. Dadan Kusdiana menekankan bahwa kemandirian energi merupakan prasyarat utama bagi kedaulatan bangsa. Konsumsi energi nasional yang tumbuh sekitar 4–5 persen setiap tahun tidak sebanding dengan produksi minyak domestik yang terus menurun, sehingga Indonesia masih harus memenuhi sebagian besar kebutuhan energi melalui impor.

Menurutnya, transformasi menuju energi bersih dan berkelanjutan menjadi langkah strategis yang tidak dapat ditunda. Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan lebih dari 3.600 gigawatt, termasuk energi surya, panas bumi, air, dan bioenergi, yang dapat menjadi fondasi kemandirian energi nasional di masa depan.

Selain aspek ketersediaan energi, efisiensi penggunaan energi juga menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan nasional. Optimalisasi konsumsi energi di sektor industri, transportasi, hingga rumah tangga dinilai mampu memberikan dampak signifikan tanpa memerlukan investasi besar dalam waktu singkat.

Dari perspektif akademik, M. Zeinny menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi dalam mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan. Ia menilai banyak inovasi energi hasil penelitian akademisi belum mampu diimplementasikan secara luas akibat keterbatasan pendanaan, regulasi, serta belum optimalnya ekosistem kolaborasi nasional.

Forum diskusi juga menyoroti pentingnya penguatan kebijakan fiskal melalui mekanisme Dana Bagi Hasil sektor energi agar daerah penghasil dapat meningkatkan pembangunan infrastruktur, pendidikan, serta penguatan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Optimalisasi pemanfaatan dana tersebut dinilai menjadi kunci dalam mendukung transformasi energi berbasis potensi daerah.

Sebagai penutup, para narasumber menegaskan bahwa ketahanan energi bukan semata tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan agenda bersama seluruh elemen bangsa. Transisi energi yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan diyakini mampu memperkuat ekonomi nasional sekaligus memastikan kesejahteraan masyarakat di masa depan.

“Energi yang kuat adalah fondasi bangsa yang berdaulat. Melalui kolaborasi nasional dan inovasi berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang besar untuk mewujudkan kemandirian energi,” tutup Dr. Desy Ratnasari.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *