Jaga Sahur Marngoti: Tradisi Kekompakan Pemuda di Kampung Tengah Parlayanan

Oleh: a. nasution (Jurnalis & Aktivis Muda Pasbar)

Matarakyat24.com/ Pasaman Barat — Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, masih ada tradisi lama yang tetap hidup dan dijaga dengan penuh kesadaran oleh masyarakat. Salah satunya adalah tradisi jaga sahur (Marngoti) di Kampung Tengah Parlayanan Jorong Situak Barat, yang setiap bulan Ramadhan selalu menjadi kegiatan rutin pemuda kampung.

Tradisi ini mungkin terlihat sederhana, bahkan nyaris tanpa kemeriahan. Tidak ada pawai sahur dengan kendaraan bermotor, tidak berkeliling memakai alat musik atau speaker aktif, tidak pula memakai pengeras suara yang membangunkan warga secara serentak dari masjid. Para pemuda hanya berjalan kaki menyusuri lorong-lorong kampung dalam keheningan malam, mengetuk pintu rumah ke rumah warga satu per satu lalu membangunkan Ibuk-ibuk dari luar sebagai tanda waktu sahur telah dekat.

Bunyi ketukan pintu—tok… tok… tok…”markacak, markacak, Buk, markacak”—menjadi suara yang akrab bagi masyarakat. Cara ini justru terasa lebih sederhana, karena menghadirkan kedekatan yang tidak bisa digantikan oleh teknologi ataupun jenis kebiasaan yang masyarakat lainnya. Ketokan pintu itu bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga simbol perhatian dan kebersamaan antar masyarakat.

Bagi banyak keluarga, terutama ibu-ibu yang menyiapkan hidangan sahur, ketukan pintu dari luar seiringan dengan suara himbauan dari pemuda kampung, menjadi pengingat yang penuh makna. Ada rasa aman karena tahu masih ada pemuda kampung yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Sapaan singkat dari luar pintu sering kali menjadi tanda bahwa hubungan sosial di kampung masih hidup dan terjaga.

Di sinilah letak nilai penting dari tradisi jaga sahur. Kegiatan ini bukan sekadar membangunkan warga untuk makan sebelum berpuasa, tetapi juga menjadi ruang belajar sosial bagi generasi muda. Melalui kegiatan ini, para pemuda belajar tentang tanggung jawab, kebersamaan, dan arti menjaga kampung sebagai rumah bersama.

Di banyak tempat, tradisi membangunkan sahur memang berbeda-beda dan kini lebih mengandalkan pengeras suara atau kendaraan bermotor. Cara tersebut memang praktis, tetapi sering kali menghilangkan sentuhan kesederhanaan yang dahulu menjadi ciri kehidupan kampung. Memastikan masyarakat bangun dan bersiap untuk memasak adalah sebuah keharusan. Ketika teknologi menggantikan peran manusia, hubungan sosial pun perlahan bisa menjadi renggang.

Kampung Tengah Parlayanan memberi contoh bahwa tradisi lama tidak selalu harus ditinggalkan. Justru di tengah kehidupan yang semakin individual, nilai gotong royong dan kekompakan seperti ini menjadi semakin penting untuk dipertahankan. Tradisi jaga sahur menunjukkan bahwa kemajuan zaman tidak harus menghapus kebiasaan baik yang telah diwariskan oleh orang terdahulu.

Bulan Ramadhan selalu memberikan cerita bagi setiap umat, tidak hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang mempererat hubungan sosial. Jaga sahur menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah bagian dari semarak bulan yang suci itu sendiri. Selama para pemuda masih berjalan dari rumah ke rumah setiap malam Ramadhan, selama bunyi ketukan pintu masih terdengar sebelum imsak, tradisi jaga sahur di Kampung Tengah Parlayanan akan tetap hidup sebagai identitas kampung yang layak dijaga.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh perubahan, mungkin justru suara ketukan pintu dan suara pemuda di malam Ramadhan itulah yang mengingatkan kita bahwa kebersamaan masih punya tempat untuk bertahan. Tradisi kecil seperti ini mengajarkan bahwa menjaga sahur sesungguhnya adalah juga menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang membuat sebuah kampung tetap terasa seperti rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *