Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Berpotensi Sholat Idulfitri di Hari yang Sama

Ilustrasi

Matarakyat24/Tuban –perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri tahun ini kembali menjadi perhatian umat Islam Indonesia. Namun, kemungkinan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah merayakan Idul Fitri bersamaan masih terbuka.

Potensi tersebut muncul dari hasil perhitungan hisab yang di himpun oleh Tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementrian Agama. Data tersebut menjadi acuan awal menjelang proses Rukyatul hilal penentuan 1 Syawal yang di jadwalkan berlangsung pada 19 Maret mendatang, ketinggian hilal di sejumlah wilayah diperkirakan telah mencapai sekitar 3 derajat.

Dikutip dari Radar Tuban, Tim Ahli BHR Kemenag Tuban, Kasdikin mengatakan, sejumlah daerah di wilayah barat Indonesia diprediksi memiliki ketinggian hilal yang relatif lebih tinggi. Daerah-daerah tersebut, antara lain, Medan, Aceh, Padang, dan Jambi.

“Jika melihat itu tentunya Lebarannya bisa serentak,” ujar Kasdikin kepada awak media.

Meski demikian, kondisi tersebut belum sepenuhnya memenuhi kriteria yang disepakati dalam forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Dalam kesepakatan tersebut, pergantian bulan hijriah ditetapkan jika ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi—jarak sudut antara bulan dan matahari—mencapai 6,4 derajat

Menurut Kasdikin, meski ketinggian hilal di beberapa wilayah sudah mendekati 3 derajat, nilai elongasinya belum memenuhi syarat.

“Karena meski ketinggian hilal 3 derajat, elongasinya belum sampai 6 derajat. Seperti di Medan elongasi hanya sekitar 5 derajat,” kata kepala KUA Rengel itu.

Karena itu, penetapan 1 Syawal masih bergantung pada hasil sidang isbat yang akan digelar pemerintah pada 19 Maret.

Pemerintah nantinya akan menentukan apakah tetap menggunakan kriteria MABIMS secara penuh atau mempertimbangkan ketinggian hilal yang telah mencapai 3 derajat di sejumlah wilayah.

Apabila pemerintah menetapkan awal Syawal hanya berdasarkan ketinggian hilal 3 derajat tanpa mempertimbangkan syarat elongasi MABIMS, maka Idul Fitri berpotensi jatuh pada 20 Maret.

Jika skenario tersebut terjadi, perayaan Idul Fitri kemungkinan berlangsung bersamaan dengan Muhammadiyah yang lebih dulu menetapkan 1 Syawal pada tanggal tersebut

Sementara itu, untuk wilayah Tuban, hasil perhitungan menunjukkan ketinggian hilal pada saat rukyatul hilal diperkirakan belum mencapai 3 derajat.

Karena itu, kepastian terlihat atau tidaknya hilal tetap menunggu hasil pengamatan langsung pada 19 Maret.

“Kita tunggu saja nanti hasil sidang isbat pada 19 Maret,” ujar Kasdikin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *