Matarakyat24.com – Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Madya BKPM, Mirna Rizkiana, menyoroti perubahan lanskap global yang kini tengah bertransisi dari era VUCA menuju era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible) dalam webinar literasi digital bertajuk “Akselerasi Investasi dan Perdagangan Global” yang digelar Rabu (11/3/2026).
Menurut Mirna, tantangan global saat ini tidak lagi sekadar ketidakpastian biasa, melainkan kondisi yang lebih kompleks dan rapuh. Gangguan kecil pada satu sektor dapat memicu dampak besar pada sektor lain yang sulit diprediksi menggunakan pendekatan lama. Ia menekankan bahwa strategi adaptasi tradisional kini perlu berevolusi menuju penguatan resiliensi dan inovasi. Salah satu contoh transformasi tersebut terlihat pada perkembangan Surabaya yang kini mulai muncul sebagai pusat ekonomi digital baru di Indonesia dengan dukungan aktif generasi muda.
Dalam pembahasan mengenai arus modal global, Mirna mengungkapkan bahwa dinamika investasi dunia menunjukkan tren yang cukup kontras. Di satu sisi, pasar swasta mengalami perlambatan dengan penggalangan dana yang berada pada titik terendah sejak tahun 2016. Namun di sisi lain, Investasi Langsung Asing atau Foreign Direct Investment (FDI) justru diproyeksikan tumbuh hingga 14 persen dan mencapai nilai sekitar 1,6 triliun dolar AS pada tahun 2025. Menurutnya, para investor kini mulai mengalihkan fokus pada sektor-sektor strategis yang memiliki prospek jangka panjang, seperti teknologi hijau, energi terbarukan, transportasi listrik, serta infrastruktur digital.
Meski peluang investasi cukup besar, Mirna juga mengingatkan adanya berbagai risiko global yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi, seperti fragmentasi geopolitik dan inflasi global yang meningkatkan kecemasan pasar. Ia mencontohkan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga emas melonjak hingga mencapai sekitar 5.278 dolar AS per ons pada Maret 2026. Selain itu, kebijakan proteksionisme dan larangan impor di sejumlah negara juga dinilai semakin memperumit rantai pasok global.
Sebagai langkah mitigasi, Mirna menyarankan pelaku usaha untuk melakukan diversifikasi portofolio investasi serta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memprediksi pergerakan pasar dan mengantisipasi risiko keamanan siber. Ia juga menjelaskan adanya pergeseran paradigma dalam sistem perdagangan global dari model Just-in-Time menuju Just-in-Case. Model baru ini lebih menekankan pada keamanan pasokan dengan sistem cadangan yang lebih kuat.
Meskipun nilai perdagangan global telah mencapai rekor sekitar 35 triliun dolar AS, Mirna mencatat bahwa pertumbuhan volume perdagangan sebenarnya sedang melambat di angka sekitar 2,6 persen. Karena itu, ia menekankan pentingnya strategi friend-shoring, diversifikasi geografis, serta pemanfaatan instrumen kredit perdagangan untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah ketidakpastian global.
Menurut Mirna, digitalisasi menjadi katalis utama dalam menghadapi kerentanan ekonomi global. Teknologi seperti Internet of Things (IoT) melalui sensor pintar bahkan mampu menekan biaya logistik hingga 45 persen. Selain itu, platform e-commerce dinilai berperan penting dalam membantu UMKM tetap terhubung dengan pasar internasional. Ia pun merekomendasikan agar investor memprioritaskan kemandirian teknologi dan ketahanan iklim, sementara pemerintah perlu memperkuat perjanjian perdagangan regional serta meningkatkan transparansi pasar melalui teknologi blockchain untuk menjamin keamanan transaksi lintas negara.***










