Direktur BKPM Sebut Dunia Masuki Era BANI, Investor Harus Bangun Ketangguhan

Matarakyat24.com— Direktur Perencanaan Makro Investasi BKPM Aditia Prasta, S.T., M.M. menyebut dunia saat ini tengah memasuki era baru yang disebut BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible), menggantikan paradigma lama VUCA. Kondisi ini menuntut organisasi dan negara untuk membangun ketangguhan sistemik dalam menghadapi ketidakpastian global.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan diseminasi bertema “Akselerasi Investasi dan Perdagangan Global” yang diselenggarakan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital di Intel Studio Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (9/3/2026). ‏Dalam pemaparannya, Aditia menjelaskan bahwa dalam era BANI, tantangan global semakin kompleks dan sulit diprediksi secara linear. Oleh karena itu, organisasi tidak lagi cukup hanya bersifat adaptif, tetapi harus mampu membangun resiliensi atau ketahanan yang kuat.

Ia juga mencontohkan Kota Surabaya sebagai salah satu pusat ekonomi digital yang berkembang pesat di Indonesia, di mana generasi muda memainkan peran penting dalam mendorong inovasi dan adaptasi terhadap perubahan global.
Aditia kemudian memaparkan kondisi investasi global yang menunjukkan dua sisi berbeda. Di satu sisi, aktivitas penggalangan dana di pasar swasta sedang mengalami penurunan dan menjadi yang terendah sejak 2016.

Namun di sisi lain, investasi langsung asing atau Foreign Direct Investment (FDI) diproyeksikan meningkat hingga 14 persen dan mencapai nilai sekitar 1,6 triliun dolar AS pada tahun 2025. Menurutnya, investor saat ini semakin fokus pada sektor-sektor strategis seperti teknologi hijau, energi terbarukan, transportasi listrik, serta infrastruktur digital.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan tersebut tetap menghadapi sejumlah risiko global, seperti ketegangan geopolitik dan tekanan inflasi. Ia mencontohkan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang turut mempengaruhi pasar global, termasuk melonjaknya harga emas hingga mencapai USD 5.278 per ons pada Maret 2026.

Selain itu, hambatan perdagangan antara Tiongkok dan Eropa serta meningkatnya kebijakan proteksionisme juga dinilai dapat memengaruhi kepercayaan investor. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Aditia menyarankan para pemangku kepentingan untuk melakukan diversifikasi portofolio investasi serta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) guna mendeteksi potensi risiko pasar dan keamanan siber secara lebih dini.

Di sektor perdagangan global, ia juga menyoroti pergeseran strategi rantai pasok dari model Just-in-Time menuju Just-in-Case yang lebih menekankan pada ketersediaan cadangan logistik. Meski nilai perdagangan global mencapai rekor 35 triliun dolar AS, pertumbuhan volume perdagangan hanya berada di kisaran 2,6 persen. Sebagai solusi, ia mendorong penerapan strategi friend-shoring, yaitu kerja sama dengan negara-negara mitra yang memiliki hubungan ekonomi dan politik yang stabil.

Aditia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam perdagangan global, seperti Internet of Things (IoT), e-commerce, dan blockchain yang mampu meningkatkan efisiensi logistik serta transparansi transaksi lintas negara. “Di masa depan, kunci keberhasilan bukanlah kemampuan memprediksi secara sempurna, tetapi kemampuan untuk belajar dan beradaptasi dengan cepat dari berbagai dinamika yang terjadi,” ujarnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *