Breaking News
𝐔𝐩𝐚𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐇𝐔𝐓 𝐤𝐞-𝟐𝟐 : 𝐁𝐮𝐩𝐚𝐭𝐢 𝐀𝐧𝐧𝐢𝐬𝐚 𝐏𝐚𝐩𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐂𝐚𝐩𝐚𝐢𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐫𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐃𝐡𝐚𝐫𝐦𝐚𝐬𝐫𝐚𝐲𝐚 𝐏𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐒𝐚𝐦𝐛𝐮𝐭 𝐊𝐚𝐩𝐨𝐥𝐫𝐞𝐬 𝐃𝐡𝐚𝐫𝐦𝐚𝐬𝐫𝐚𝐲𝐚, 𝐁𝐮𝐩𝐚𝐭𝐢 𝐒𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐩𝐫𝐞𝐬𝐢𝐚𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐫𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐒𝐢𝐧𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐈𝐧𝐢 𝐒𝐨𝐬𝐨𝐤 𝐇𝐚𝐝𝐝𝐚𝐝 𝐀𝐥𝐰𝐢, 𝐌𝐮𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐑𝐞𝐥𝐢𝐠𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐚𝐫𝐲𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐃𝐢𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐋𝐢𝐧𝐭𝐚𝐬 𝐔𝐬𝐢𝐚, 𝐀𝐤𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐝𝐢𝐫 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐇𝐔𝐓 𝐤𝐞-𝟐𝟐 𝐃𝐡𝐚𝐫𝐦𝐚𝐬𝐫𝐚𝐲𝐚 𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐇𝐔𝐓 𝐤𝐞-𝟐𝟐 𝐃𝐡𝐚𝐫𝐦𝐚𝐬𝐫𝐚𝐲𝐚 𝐌𝐞𝐫𝐢𝐚𝐡, 𝐒𝐞𝐩𝐞𝐝𝐚 𝐌𝐨𝐭𝐨𝐫 𝐉𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐤𝐞 𝐓𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐑𝐢𝐤𝐚 𝐃𝐞𝐬𝐦𝐚𝐰𝐚𝐭𝐢 𝐔𝐭𝐚𝐦𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐖𝐚𝐫𝐠𝐚, 𝐁𝐮𝐩𝐚𝐭𝐢 𝐀𝐧𝐧𝐢𝐬𝐚 𝐓𝐚𝐤 𝐓𝐨𝐥𝐞𝐫𝐢𝐫 𝐓𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐇𝐢𝐛𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐚𝐫

Teddy Alfonso Caleg DPR RI Dapil Sumbar 1 : Tantangan dan Permasalahan Dunia Kerja Indonesia

Teddy Alfonso.

MATARAKYAT24.COM, PADANG- Dunia kerja Indonesia secara umum, dan Sumatera Barat secara khususnya telah mengalami perkembangan yang signifikan selama beberapa dekade terakhir. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Sumbar yang juga Caleg DPR RI Dapil Sumbar 1 dari Golkar, Teddy Alfonso pada Selasa, 22 Januari 2024.

Sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Sumatera Barat, ia ingin menguraikan beberapa permasalahan krusial yang melanda dunia kerja di Sumatera Barat saat ini. Permasalahan tersebut memiliki dampak mendalam terhadap produktivitas, kesejahteraan pekerja, dan perkembangan ekonomi negara.

1. Ketidaksetaraan Gender.

Meskipun langkah-langkah menuju kesetaraan gender telah diambil, ketidaksetaraan masih menjadi permasalahan serius di dunia kerja Sumatera Barat. Wanita seringkali menghadapi diskriminasi dalam hal penggajian dan peluang karir.

“Inisiatif untuk mengatasi ketidaksetaraan gender perlu diperkuat melalui kebijakan yang mendukung partisipasi aktif wanita di semua sektor,” ucapnya.

2. Kesenjangan pendidikan dan keterampilan.

Kesenjangan dalam tingkat pendidikan dan keterampilan dikalangan pekerja masih menjadi hambatan. Sementara lulusan perguruan tinggi bersaing untuk pekerjaan yang semakin sedikit, sektor industri seringkali kesulitan menemukan tenaga kerja yang memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Pendidikan dan pelatihan vokasional yang relevan perlu ditingkatkan untuk mengurangi kesenjangan ini,” ucapnya.

3. Ketidakpastian Ekonomi dan Pekerjaan

Informal Pekerjaan informal masih mendominasi sebagian besar ekonomi Sumatera Barat, menyebabkan ketidakpastian ekonomi bagi pekerja. Pekerja informal seringkali tidak memiliki jaminan sosial dan hak-hak pekerja yang layak.

“Upaya perlu dilakukan untuk mengakomodasi dan melindungi pekerja informal sambil mendorong transformasi menuju ekonomi yang lebih terstruktur,” ucapnya.

4. Kondisi Buruh dan Hak-Hak Pekerja.

Meskipun terdapat peraturan perundang-undangan yang melindungi hak-hak pekerja, pelaksanaannya masih belum optimal. Beberapa pekerja menghadapi kondisi kerja yang tidak manusiawi, termasuk jam kerja yang berlebihan dan kurangnya hak untuk berserikat.

“Reformasi dan penegakan hukum yang lebih baik diperlukan untuk memastikan hak-hak pekerja dihormati dan dilindungi,” katanya.

5. Tantangan Teknologi dan Transformasi Digital.

Perkembangan teknologi dan transformasi digital membawa perubahan besar dalam dunia kerja. Meskipun memberikan peluang baru, ini juga menghadirkan ancaman terhadap pekerjaan tradisional.

“Penyelarasan antara perkembangan teknologi dan kesiapan pekerja dalam menghadapi perubahan ini menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan dan inklusivitas di pasar kerja,” sarannya.

“Sebagai pengamat yang telah melihat berbagai dinamika dalam dunia kerja Indonesia, saya menyadari bahwa mengatasi permasalahan ini memerlukan upaya bersama dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Tindakan konkret dalam meningkatkan pendidikan dan pelatihan, mengurangi ketidaksetaraan gender, memperkuat hak-hak pekerja, dan menyelaraskan perkembangan teknologi dengan kebutuhan pasar kerja adalah langkah-langkah krusial menuju sebuah dunia kerja yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan di Sumatera Barat,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *