PERAN HMI DALAM MENJAGA EKOSISTEM LINGKUNGAN: KOLABORASI NILAI ISLAM DAN AKTIVISME HIJAU

Oleh : Deva Firdaus Mahaputra Fungsionaris HMI cabang padang

matarakyat24.com – Padang, 12 Juli 2025 — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi mahasiswa tertua di Indonesia yang didirikan pada 5 Februari 1947 atau bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1366 H, terus menunjukkan kiprahnya tidak hanya dalam mencetak kader pemimpin bangsa, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Di tengah ancaman krisis iklim dan kerusakan ekosistem yang semakin nyata, HMI mengambil peran strategis sebagai agen perubahan berbasis nilai-nilai keislaman.

Mengusung visi besar tentang peran manusia sebagai *khalifah fil ardh* (pemimpin di muka bumi), HMI menempatkan isu lingkungan sebagai bagian penting dari amanah moral dan spiritual. Perjuangan ini diwujudkan dalam tiga pilar utama: edukasi, aksi nyata, dan advokasi kebijakan.

Pilar Edukasi: Membangun Kesadaran Kolektif

HMI menyadari bahwa kerusakan lingkungan kerap berakar dari kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Untuk itu, berbagai forum ilmiah digelar secara rutin, seperti seminar, diskusi publik, hingga kajian tematik tentang isu-isu lingkungan. Topik yang diangkat pun beragam, mulai dari bahaya deforestasi, pengelolaan sampah berkelanjutan, hingga potensi energi terbarukan.

Tak hanya menyasar internal kader, kampanye dan edukasi ini juga menyebar luas melalui media sosial serta sosialisasi langsung di masyarakat. HMI bertindak sebagai penyebar informasi sekaligus pembentuk opini publik agar lebih peduli terhadap keberlangsungan lingkungan hidup.

Pilar Aksi Nyata: Dari Wacana ke Lapangan

Tidak berhenti pada tataran teori, HMI menjadikan aksi konkret sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap alam. Di berbagai wilayah, cabang-cabang HMI aktif melakukan kegiatan seperti penanaman mangrove di daerah pesisir, aksi bersih sungai dan pantai, serta pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Salah satu kegiatan yang mendapat sorotan adalah program rehabilitasi lingkungan pesisir melalui penanaman mangrove, yang selain mencegah abrasi juga menghidupkan kembali ekosistem laut. Gerakan bersih-bersih ruang publik dan kampanye pengurangan sampah plastik juga rutin dilakukan sebagai upaya membangun budaya hidup bersih dan ramah lingkungan.

Pilar Advokasi: Mengawal Kebijakan dan Suara Rakyat

Sebagai organisasi mahasiswa independen, HMI juga memainkan peran penting dalam advokasi dan kontrol sosial terhadap kebijakan yang berpotensi merusak lingkungan. Melalui kajian kebijakan dan aksi-aksi protes damai, HMI tidak segan menyuarakan kritik terhadap eksploitasi alam, seperti aktivitas tambang ilegal atau pembangunan yang mengabaikan analisis dampak lingkungan (AMDAL).

Tak jarang, HMI turut menggandeng pemerintah daerah, LSM lingkungan, dan komunitas lokal untuk memperkuat jejaring gerakan pelestarian lingkungan. Kolaborasi ini menjadi bentuk nyata dari sinergi antara intelektualitas mahasiswa, nilai keislaman, dan kepedulian ekologis.

 

Menjadi Teladan Bagi Generasi Muda

Peran HMI dalam menjaga ekosistem lingkungan bukan sekadar program temporer, melainkan bagian dari identitas organisasi sebagai penjaga amanah dan pelopor perubahan. Di tengah dinamika zaman, HMI menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dan semangat aktivisme bisa berjalan beriringan untuk menciptakan Indonesia yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan.

Dengan semangat “Berjuang, Belajar, Bertakwa”, HMI terus mendorong generasi muda untuk tak hanya menjadi agen perubahan sosial, tetapi juga penjaga bumi yang kita pijak bersama. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *